Berpikir Tentang Etika Online

Hari Kamis tanggal 15 September 2011, anakmudanya meninggalkan kota Medan untuk merapatkan barisan bersama banyak teman-teman yang aktif di dunia online, dalam sebuah proses drafting untuk Kode Etik Online yang diinisiasi oleh ICT Watch.

Ketika awalnya diundang, aku bertanya-tanya ini tujuannya apa? Apa mau bikin dekrit, gitu? Apa orang-orang emang gak tahu pentingnya etika online? Emangnya ada orang yang merasa perlu dibuat sebuah hukum tertulis terkait  aktifitas online?

Pada Jumat, 16 September 2011, bertempat di Hotel Harris (Tebet, Jakarta) agenda pun dimulai. Acara yang terdiri dari rangkaian Workshop dan Focus Group Discussion ini berjalan dengan kronologis sebagai berikut:

  1. Workshop sesi pertama diisi oleh bang Sammy Pangerapan (APJII, “Internet Services for Community”) dan mas Sigit Widodo (PANDI, “Domain .id as Community Identity”)
  2. Workshop sesi kedua diisi oleh mas Anggara (Public Interest Lawyer/ICJR.or.id, “Freedom of Speech on the Net”) dan mas Nezar Patria (AJIIndonesia.org, “New Media on Today Perspective”)
  3. Workshop sesi ketiga diisi oleh Ross LaJeunesse (Head, Public Policy and Gov Affairs, Google – Asia Pacific) dan  Mike Orgill (Country Lead, Public Policy & Gov Affairs, Google – Southeast Asia)
  4. Workshop sesi keempat diisi oleh Pak Nukman Luthfie dengan topik “Etika 2.0”

Kepala ini serasa penuh menampung informasi yang dibagikan. Penawaran dan kesempatan yang terpapar, fakta-fakta baru tentang; betapa masih sangat kecil persentase orang Indonesia yang pakai domain .id, aturan main jurnalisme, banyaknya kasus di Indonesia yang tidak ditangani secara adil, dan bagaimana Google bersikap transparan terhadap kebijakan sebuah negara, benar-benar mencelikkan mata.

Serangkaian hasil survey pun menunjukkan bahwa memang Internet masih memaparkan kesempatan yang dapat merugikan orang lain, dan bahwa kebutuhan akan pendidikan tentang Kode Etik Online adalah hal yang ditunggu oleh pengguna Internet di Indonesia.

Hasil Survey Tentang Etika Online

Survey oleh ICT Watch

Focus Group Discussion Online Ethics Code Drafting

Kemudian, setelah rangkaian sesi Workshop selesai, masuklah kami ke dalam rangkaian sesi Focus Discussion Group, yang merupakan sebuah kegiatan dengan tujuan untuk membentuk sebuah referensi yang bisa dipergunakan, diajarkan dan diadopsi secara dinamis sesuai dengan kondisi dan perubahan jaman. Yang kesemuanya didasarkan kepada usaha untuk menciptakan suasana yang tidak merugikan kebebasan berpendapat yang menjadi hak orang lain. Kurasa proses yang kami lalui, dirancang dengan cukup baik. Setiap suara dihargai, setiap pengalaman dijadikan bahan pembelajaran untuk mengatasi kemungkinan yang bisa datang di masa mendatang.

Sebelum membahas apa yang perlu dirancang, kami – oleh kekuasaan di ujung telunjuk mas Idaman – ditunjuk dan diadu dalam sebuah debat berjamaah untuk menentukan apakah Kode Etik Online itu memang diperlukan oleh pengguna Internet di Indonesia? Aku sempat mengajukan permintaan untuk pindah kubu (dari yang “pro” menjadi yang “kontra”) karena dari banyaknya respon di twitter yang kubaca, sepertinya lebih gampang untuk menyusun materi “kontra kebutuhan Kode Etik Online”. Tetapi, sekali lagi – oleh kekuasaan di ujung telunjuk mas Idaman – tidak ada yang bisa kulakukan selain berusaha menyusun argumentasi untuk “melawan” pemikiran yang menentang penyusunan Kode Etik Online
:hihi:

Maka proses pengidentifikasian permasalahan yang sering terjadi di Internet pun berjalan, bersumber kepada hasil survey yang sudah dilakukan oleh ICT Watch dan juga contoh-contoh kasus yang sudah diajukan oleh para narasumber Workshop di pagi hari, maka beberapa usulan tentang cara mengatasi masalah tersebut dan juga rancangan kode etik yang dapat dijadikan panduan untuk menghindari pergesekan antara pengguna Internet pun disusun.

FGD Ethics Code Online

Kelompok 2 membahas permasalahan di Internet

Beberapa orang mempertanyakan, buat apa disusun Kode Etik Online, toh hukum yang sudah sedemikian mengikat-nya saja masih dilanggar.

Apa yang kami susun kemarin, bukanlah hukum yang mengikat. Bukan pula sebuah aturan, yang dipaksakan kepada seluruh pengguna Internet di Indonesia, yang memberikan sanksi kepada yang melanggar. Etika adalah tentang kesepahaman akan kebiasaan yang baik, yang memiliki nilai yang patut dijunjung tinggi. Secara pribadi, aku setuju kalau etika ini harus ditanamkan melalu proses yang menjunjung tinggi kedewasaan dan kebebasan berpikir seseorang.

Semoga kehadiranku (dan juga teman-teman dari berbagai komunitas yang kemarin kujumpai) disini, bukan hanya sebagai pasukan hore, tetapi benar-benar bisa juga menjadi agen perubahan.

Agen yang berusaha merubah pemikiran “aku berhenti di lampu merah karena ada pulisi di depan” menjadi “aku berhenti di lampu merah supaya mereka yang lampunya hijau bisa memperoleh hak mereka untuk jalan terlebih dahulu”

Doakan saya ya teman-teman!
*pasang pose Benteng Takeshi*

Ucapan terima kasih saya untuk tim Internet Sehat yang sudah sangat baik mengapresiasi kehadiran saya. Juga terima kasih buat teman-teman dari berbagai komunitas di Indonesia yang begitu baik mau berinteraksi dengan saya (awak ni apa lah). Tak lupa buat para warga-negara-kelas-dua yang senang nongkrong bareng saya di samping gedung, yang sudah menjaga keamanan Marlboro Light saya yang ketinggalan
:ngakak:

(foto disediakan oleh mas DonnyBU)