Blogger Pun Perlu Pahami Seluk Beluk Bisnis

Siang tadi, ketika gravitasi seakan meningkat di sekitar tempat tidurku, satu twit memancing rasa penasaran yang memaksaku melanjutkan aktifitas berseluncur di dunia maya. Tautan pada twit tersebut mengarahkanku ke sebuah laman yang memaparkan pengalaman @hazmiSRONDOL dengan kampanye salah satu produsen mie instan di Indonesia. Judul tulisannya “Sesuatu” yang Haram dari Indomie.

cerita-indomie-punya-srondol

Tulisan blogger yang digunakan dalam kampanye Indomie.

Kisahnya, jika boleh aku simpulkan, adalah tentang bagaimana kerjasamanya dengan agency bertaraf internasional bernama LOWE & Partner (agency dari Indomie) – berujung tidak menyenangkan terhadap dirinya (dan keluarga).

Pertama-tama, tolong pahami bahwa tulisan ini bukan bertujuan untuk menyebarkan kebencian terhadap Indomie, apalagi diartikan sebagai inisiasi untuk memboikot produk tersebut di pasaran. Bukan. Tulisan ini lebih berusaha untuk memaparkan bahwa blogger, atau penulis, seyogyanya lebih memahami lagi tentang seluk-beluk kesepakatan bisnis.

Pengalaman serupa, dalam hal kesepakatan bisnis, sebenarnya pernah dikicaukan @IFnubia dalam kisruh Ghost Writer Buku Chairul Tanjung “Chairul Tanjung si Anak Singkong”. Yang jika boleh kusamakan, keduanya memicu permasalahan ketika perubahan-perubahan yang dilakukan dalam prosesnya tidak berujung kepada kepuasan kedua belah pihak (penulis dan yang menggunakan materi hasil karya si penulis).

Sharing aja nih, berdasarkan pengalaman sendiri dan pengalaman rekan lain, yang pernah terlibat dalam kesepakatan bisnis. Memang ada baiknya segala jenis batasan, dan juga deliverables harusnya disepakati dengan jelas dan tertuang dalam dokumen yang memiliki kekuatan hukum. Contohnya nih, teman yang berprofesi sebagai web developer selalu punya kontrak kerja yang menyatakan jumlah revisi pengerjaan website. Sehingga kedua belah pihak berkesempatan untuk menikmati kepuasan dari kerjasama tersebut.

Ribet memang kalau apa-apa musti “hitam di atas putih” tapi jika ingin menjamin kepuasan, memang sebaiknya seperti itu. Aku menduga, Hazmi juga pada awalnya menuliskan kisahnya ini bukan untuk “dijual” sebagai bahan kampanye merk besar. Dari tulisan aslinya di Multiply aku yakin ini adalah satu kisah yang dituliskannya, dengan semangat berbagi sebagai blogger. Dan ini yang menantang – ketika hobby harus dialirkan ke arah bisnis.

Nah, sebagai entitas yang memang memiliki hobby menulis, blogger musti belajar dari pengalaman orang-orang tersebut di atas. Kita barangkali memang tidak sadar, betapa “berharganya” apa yang sudah kita perbuat. Sama seperti anak-anak didikku di Namira yang tidak tahu betapa bernilainya kemampuan mereka melakukan instalasi sistem operasi untuk sebuah laptop. Ketidaktahuan ini biasanya memang bikin bingung ketika orang menanyakan “berapa harga yang pantas” dan kebingungan tadi pun membuat sang insan tidak mematok jelas ekspektasinya. Alhasil di ujung, terbitlah penyesalan

buset, kemurahan rupanya harga yang ku kasih

Oh, jadi ingat, blog ini juga dulu pernah ditawar orang buat pasang iklan plus bikin review. Dan dengan statistik yang waktu-itu, teman-teman komunitas pun ngetawain aku yang “cuma” ngasih harga senilai harga perpanjangan domain.

Update 28 Februari:

Catatan ini harus lekat menjadi bagian dari tulisan ini, bahwa akhirnya Hazmi Srondol mendapat “kompensasi” lebih dari 200 Milyar.
(sumber)

  • rasa percaya diri yg kurang kadang membuat kita menghargai diri lebih murah. itu makanya kadang jual mahal itu perlu pada pekerja yg tepat pula..

    • kalau aku sih, dulu seringnya ragu mempertahankan ekspektasi.. jadi dinego sedikit, luluh :))

  • Kebanyakan blogger cuma tau nulis dan nulis, ketika dihadapkan dengan tawaran untuk jasanya ya langsung “kagok” karena belum pernah ngalamin. Aku masih ingat pertama kali dapat review, begitu PO langsung tekejut “segini toh harga review” walau gak tau berapa pasaran yang lain.