Nich sudah pulang!
Wuih, perjalanan kali ini, memang berkesan. Kalau dipikir-pikir lagi sih, emang semua perjalanan dengan Nich pasti bekesan (walaupun buat beberapa orang, sering dianggap gak nyaman :D). Pokoknya, misi sukses dah, semua persiapan gak ada yang sia-sia. Dan yang terpenting, semua peserta selamat dari marabahaya dan tiba dengan selamat ke rumah masing-masing tanpa merasa kurang satu apa pun :)
Jumat 6 Juni, 2008
Bersiap berangkat dari Pancing (warnet De L’Esperanza), saya dan Pieps berencana menggunakan jasa PJKA sebagai transportasi pilihan. Rencana besar kami adalah naik kereta api ke Rantau Parapat dan melanjutkan perjalanan dari sana ke lokasi pesta Pernikahan Rio dengan menggunakan Supra “Mandra” milik Pieps. Jadilah kami tiba di stasiun kereta api sekitar jam setengah tiga siang. Karena tahu jadwal keberangkatan kereta sangat ketat, artinya selalu on-time, kami langsung menuju ruang pengiriman barang (bagasi) karena kereta dijadwalkan berangkat jam 3 sore.
“Dek, masih bisa muat barang?”
“Barangnya apa, Bang?”
“Kereta” (maksudnya sepeda motor)
“Aduh Bang, ban-nya aja pun sudah tak muat nih”
Buseeet .. rusak rencana, padahal masih di langkah awal. Tapi bukan dynamic-duo namanya kalau langsung panik apalagi nangis. Kami memilih duduk tenang, ngepulin asap dulu sejenak, sambil pencet-pencet tuts ha-pe. Belum nemu solusi, kami meluncur ke Pancing (dueh, malu-maluin dah padahal udah sempat pamitan sama teman-teman disana).
![]() |
Setelah merenung sejenak dan sudah puas rebahan di kasur warnet, jalan keluar pun ditetapkan. Kita pilih sarana transportasi lain, yaitu bus angkutan penumpang. Maka tanpa membuang waktu, kami meluncur ke Jalan Sisingamangaraja. Armada yang kami pilih tentunya harus memiliki kriteria, bisa angkut sepeda motor di atap. Dan pemenangnya adalah, KUPJ TOUR! Yang dengan bangga mewujudkan “yang tak mungkin menjadi mungkin”
Berangkat sekitar jam 4 sore, kami gak banyak aktifitas di dalam bus. Soalnya posisi duduk kami terpisah, beda baris. Ini lah kelemahan datang sebagai penumpang terakhir, gak bisa milih tempat duduk. Jadi ngobrol pun sulit lah, karena resiko ngomong dari balik rambut orang lain sangatlah mengancam kesehatan dan kenyamanan berkendara. Akhirnya kami pilih untuk duduk manis saja (walaupun beberapa kali bisa bicara sebentar).
Sebenarnya harapan kami, bisa tiba sekitar jam 9 malam. Karena “seharusnya” jalur angkutan jalan raya memakan waktu lebih sedikit daripada jalur kereta api. Tapi yang namanya penumpang cuma bisa berharap, hasil akhir di tangan pak supir. Kami baru tiba di Rantau Parapat jam 1 dini hari :|
Yah, seperti biasa lah, hati gak kesal .. tapi mulut nyerocos biar rame aja (udah malam tuh, daripada bengong ntar kesambet). Tiba di Simpang Enam, Leo sudah menunggu dengan pacarnya — Adinda. Tanpa ba-bi-bu, kami gerak cepat. Anak mudanya naik ke atas atap bareng pak supir. Dan proses menurunkan Supra “Mandra” pun berlangsung dengan lancar. Berat juga lho ternyata.
Setelah supper di suatu lokasi yang terdiri dari banyak deretan warung (gak tahu apa namanya), kami pun bergerak ke kediaman Leo. Ruko, ya rumah ya toko. Ternyata seperti anak mudanya, Leo juga buka usaha (H&A Ponsel) sekaligus tinggal disitu. Trio delz pun ngobrol ngalor-ngidul sampai tidur.
Sabtu 7 Juni 2008
Setelah bangun pagi (telat!) jam 10, kami buru-buru bersiap dan berniat langsung berangkat. Rencananya Nich & Pieps naik Supra “Mandra” sementara Leo naik KTM “Inul” :D Tapi didasarkan masukan (situasi jalan) dan analisis resiko (kemungkinan kesambar truk), niat untuk menempuh perjalanan Rantau – Torgamba dengan menggunakan sepeda motor, diurungkan.
![]() |
Tapi kami pun tidak punya anggaran untuk ongkos naik bus (karena memang tidak disiapkan dari awal). Pikir-pikir, ide cemerlang sang toke rantau pun muncul.
“Ko, kita kan pesan papan bunga. Kita ikut mobil pick up-nya aja”
“Wiw, betul tuh, itung-itung gak pakai bayar ongkos”
Tanpa makan waktu lama, bertiga kami sudah baris manis di depan toko karangan bunga “TOKO ALFA” menanti sang supir yang hendak menunaikan tugasnya. Dan kami pun dapat tumpangan free-of-charge, dari pihak toko. Tinggal mikirin cara pulangnya aja.
Oh, ada tebak-tebakan nih:
“Apa yang bulet, keras, panjangnya 44cm, terletak di antara paha Nich?”
Yang ngerasa udah punya jawabannya sendiri, silahkan lanjut baca … hi,hi,hi
Secara yang numpang tiga orang, ditambah supir, total ada 4 orang di kabin depan. Kalau mobilnya L300 sih gak masalah, ini cuma Kijang Pick-up yang notabene dimensi lebarnya lebih kecil. Alhasil duduknya pun sempit-sempitan lah. Sebagai pemilik tubuh yang paling slim, anak mudanya terpaksa duduk mengangkangi persneling mobil.
![]() |
Jadi itulah jawaban teka-teki di atas. Yang udah sempat mikir ngeres, apalagi sampai nyari nomor telepon ku .. silahkan malu sendiri :D
Perjalanannya cukup jauh, tapi yang dilihat itu-itu aja: kelapa sawit! Memang namanya Rantau Parapat identik dengan perkebunan kelapa sawitnya. Aku gak punya data akurat tentang produksi hasil bumi mereka, tapi yakin ku memang tinggi lah debit produksinya, secara truk yang lalu lalang gak kehitung jumlah dan besarnya.
![]() |
Siang itu cuaca cerah menjurus terik, jadi kami pun kepanasan. Dan untuk menghindari dehidrasi, kami berhenti buat cari minum di daerah Blok Songo (arti: blok sembilan). Gila aja, gak ada yang jual minuman dingin! Apa disini kulkas mahal yah? Untung setelah nyisir jalan pelan-pelan, nemu rumah yang lagi ada kondangan (juga). Eits, jangan pikir kami mau cari makan/minum gratis, we weren’t that low. Tapi disitu ada penjaja Pop Ice yang sedang ngegodain anak-anak, kebetulan. Jadilah kami borong 4 gelas, 3 untuk kami dan 1 untuk pak supir.
Perjalanan pun dilanjutkan, agak senyap, berhubung semua sudah menunjukkan tampang kelaparan. Sepertinya Pop Ice tadi cuma menjadi katalis proses pencernaan di lambung. Tiba-tiba pak supir berujar,
“Kita ini udah kelewatan yah?”
“Hah?” Kami bertiga serempak tersempak, eh tersentak.
Aje gile, udah lapar, panas .. masa’ sih kelewatan lagi. Tanpa mau didera kebingungan berlarut-larut, kami langsung pinggirkan kendaraan untuk tanya ke penduduk setempat, “dimanakah sebenarnya simpang PKS“. Dari 4 orang di dalam mobil itu, yang “seharusnya” punya pengetahuan paling akurat tentang PKS (diurut berdasarkan pengalaman) adalah:
- Pak Supir, karena di awal toko udah cerita tahu pasti tentang lokasi tujuan
- Leo, karena udah pernah ke rumah Rio sebelumnya
- Nich dan Pieps menempati posisi sama, karena asli buta akan peta
![]() |
Untung para penduduk setempat cukup bersahabat, dan menerangkan kalau kami belum kelewatan. Tinggal beberapa kilometer lagi lah dari posisi saat itu. Hwaa.. masih berkilometer lagi :( Tapi teriakan itu gak terhenti disitu, begitu nemu yang namanya simpang PKS, ada papan penunjuk “Perumahan Perkebunan” (atau apalah, gak ingat lagi) .. 6 kilometer lagi *Hwaaaa*
Tapi akhirnya kami tiba juga di lokasi pesta, telat itu pasti. Agenda acara sudah memasuki acara adat, gitu. Tapi ternyata disana para hadirin juga belum makan, dueh. Alhasil sang toke rantau pun ngeborong semua jajanan pasar yang dijual sama inang-inang disana. Apa aja yang kelihatan, diembat!
Giliran acara makan berlangsung, perut udah gak siap buat nampung apa-apa lagi. Leo sih kelihatan pengen makan, tapi segan berburu sendirian. Jadi bertahanlah kami di posisi nyantai, di tempat orang jualan tuak. Eits, gak ada yang minum cuma memanfaatkan kursi buat istirahat dengan modal imbalan Aqua botolan. Sempat sih foto sebentar dengan pasangan mempelai, tapi itu juga pakai kamera orang lain. Gara-gara kamera ku gak ada memory dan batere.. Disitu Rio sempat minta kesediaan supaya aku menyampaikan sepatah dua patah kata mewakili alumni PI-Del, dan kehormatan itu pun aku terima. Jadi setelah ucapan selamat dari rombongan tempat Rio dan Novi bekerja (IDO Synergi, dipimpin Pak Jesia). Nich, Pieps & Leo pun tampil ke muka untuk memberikan ucapan selamat, mewakili alumni PI-Del, mewakili Medan-IT dan rekan, juga mewakili teman-teman seperjuangan di Medan. Selamat buat Rio & Novi :)
![]() |
Setelah acara adatnya kelar (tinggal acara orang tua caka-cakap). Dan peluang buat ngedekati adek Rio yang ngurusin dapur pun terbuka, langsung aja kami nyambar piring masing-masing .. minta jatah makan :D Maklum, jajanan pasar cuma bertahan singkat. Akhirnya dunia terasa cerah!
Niat awal buat nginap pun kami putuskan untuk dibatalkan setelah tahu Rio dan Novi harus segera kembali ke Medan hari Minggu (karena gak ada lagi yang namanya jatah cuti buat “bulan madu”). Kapan lagi kalau bukan malam ini, ya gak? Hee,hee gak enak ngeganggu.. Dan juga biasanya orang Batak kan selesai acara nikahan gitu, pasti malamnya masih ngobrol sama kerabat keluarga. Kaya’nya timing kami pun gak tepat buat nimbrung bareng Rio disitu. Eh, tiba-tiba pak supir nongol.
“Lho, gak langsung pulang tadi, Bang?”
“Enggak lah, tanggung. Acaranya cuma sampai jam 7, mendingan aku tungguin papan bunganya baru pulang. Daripada besok datang lagi cuma buat jemput, kan jauh tuh. Capek lah!”
Hee,hee .. muka licik pun bersemi kembali, ini artinya: TUMPANGAN GRATIS LAGI! Jadi sekitar jam 7 liwat dikit, kami pun pamitan kepada pasangan mempelai dan keluarga, untuk undur diri kembali ke Rantau Parapat. Selesai misi utama.
Dari semua yang kami alami selama perjalanan (bukan keluh-kesah ya, tapi pengalaman yang dinikmati) ketika melihat Rio dan Novi berada ditengah-tengah kerabat keluarga dan tamu undangan, rasanya capek ini terbalaskan. Rasanya senang banget ngelihat kalau teman kami yang satu itu udah memasuki babak baru dalam hidupnya. Gak terkatakan emang, tapi rasanya semakin kami capek .. semakin kami puas ketika melihat mereka, pasangan pengantin baru. Sekali lagi, selamat menempuh hidup baru buat Rio & Novi :)
Komentar
5 Komentar to “Road Trip, The Story (1)”Ping-balik
Apa pendapat yang lain tentang tulisan ini..-
[...] Oke, kita lanjutakan cerita road trip sebelumnya. [...]






























waaaa…nikahna cukup jauh juga yaak..hihi.. sampe wajah di foto itu keliat lesu dah mau makan orang :lol:
salam kenal ya.
merupakan sebuah perjalanan yang menyenangkan.
selamat ya………
terimakasih sudah singgah, salam kenal juga.
satu lagi tuh KUPJ TOUR nya kalo gak salah no pintu 1001 supirnya dah tua pak Dolok saribu..
