Road Trip, The Story (2)

Berita Komentar?

Oke, kita lanjutakan cerita road trip sebelumnya.

Setelah kembali dari acara Pernikahan Rio, kami putuskan untuk mengenal Rantau Parapat lebih jauh (jangan cuma sebatas ruko-nya Leo). Jadi Adinda kasih usul, supaya Leo ajak kami jalan ke Taman Wisata Alam Air Terjun LINGGAHARA.

Rekreasi, Wisata Alam

Yah, pokoknya ide untuk jalan jauh muncul karena gak ingin Supra “Mandra” yang sedari Medan ngekor, teronggok sia-sia di ruko. Jadi lah kami meluncur sekitar jam 4 sore. Beberapa teman Leo sih kasih komentar

“Gak kesorean nih, mau lihat apa lagi disana?”
“Hah?” aku bingung, emang ada apaan.
“Biasa Ko, orang kesana buat cuci mata” (ngelihatin pengunjung lain)

Halah, gak kira hitungan tuh buat kita-kita. Justru pinginnya sih tuh tempat wisata gak crowded sama pengunjung, soalnya hari Minggu identik dengan keramaian. Iya kan? Jadi kami pun jalan santai lah.

Gak ada habisnya nih hutan

Gak disangka, emang perjalanannya jauh, bukan cuma perasaan buat yang baru pertama kali datang. Tapi emang jalurnya gak biasa aja. Bayangkan, kami harus nerobos kebun sawit terlebih dahulu. Dan kalau ada yang nebak bahwa jalannya gak di-aspal, yup, anda benar! Jangankan yang jalanan tanah, yang diaspal pun sama aja genjotannya (baca: berlubang-lubang, gak mulus). Cocok benar buat yang naik motor trail, sekalian belajar off-road dikit.

Bocor pulak, tambal dulu lah.

Tapi jalanannya ternyata gak cocok buat Supra “Mandra” yang baru datang dari kota Medan. Belum juga nyampai di lokasi, kejadian apes menimpa kami. Sepeda motor Pieps bocor ban! :| Sempat bingung juga, cari tukang ban ke depan atau mundur ke belakang. Untung Leo jeli selama perjalanan, dia tahu kalau ada tukang tambal ban yang sudah kami lewati, dan tidak terlalu jauh. Maka aku pindah tunggangan, naik KTM “Inul” jadinya bareng Leo.

Setelah ban ditambal, kami lanjutkan perjalanan. Gak ada efek jera yang berpengaruh. Pokoknya niat awal mau ke air terjun, ya harus nyampe ke tujuan. Sepanjang perjalanan, kelihatan orang sudah pada pulang. Hee,hee baguslah..

Gak lama berkendara, tiba di pos masuk. Ada pak satpam yang jagain keluar masuknya kendaraan, dan mengingatkan untuk menjaga keamanan sepeda motor dan helm (salut euy). Bayar 13rebu buat 2 motor dan 3 orang, kami meluncur menuju parkiran.

Bar-but, neh

Wuih, gak sia-sia, ding. Cakep air terjunnya. Walaupun gak sebesar Niagara, tapi cukup memenuhi kriteria “air terjun” ketimbang “pancuran”. Hah! Semua pasang aksi, pengen nyiapin dokumentasi. Ada yang niat supaya foto barunya dipajang di FS dengan alasan fotonya udah lama cuma yang itu-itu aja :D
*bukan aku, yah*

Ada dua air terjun di lokasi wisata tersebut, dan kami sudah jamah dua-duanya (biar puas). Semua jalan setapak dijalani, walaupun ternyata buntu, tapi gak rela aja kalau sampai-sampai di kemudian hari nyadar ternyata ada spot bagus yang terlewatkan. Sedikit aksi daki-mendaki, sedikit basah-basah (biar sah), kami puas-puasin diri menikmati keindahan alam dalam kadar secukupnya.

Sebelum matahari terbenam, kami sudah sampai di kediaman Leo. Dan bersiap untuk pulang, rencananya menuntaskan perjalanan dengan kereta api. Itung-itung, anggaran buat bayar Supra “Mandra” pakai Bas Way sama dengan nol (baca: udah gak ada lagi).

Perjalanan Pulang ke Medan

Jadi jam 10 lewat, kami berangkat ke stasiun kereta api Rantau Parapat. Tiba disana, yang diurus duluan adalah sepeda motor. Berharap, jangan sampai bagasinya sudah dalam statu “penuh” lagi. Dan ternyata harapan kami terpenuhi. Sepeda motor Pieps masih diterima di gerbong barang :) Bayar urusan administrasi 70rebon, kami dorong sepeda motornya ke gerbong barang.

Ini dia bagian serunya, setelah masuk ke belakang stasiun, kami gak keluar lagi. Dapat ilmu dewa dari Leo, untuk beli tiket di atas aja. Secara dana cekak, kami udah niatin buat naik di gerbong barang aja. Dan transfer ilmu pun dimulai, Leo ngajari ini itu, tips nego harga dan sebagainya. Tak lama, Leo tiba-tiba nyapa seseorang.

“Eh, Lae .. ke Medan?”
“Iya, biasalah ambil barang”
“Sama lah dengan orang ini, ya Lae. Mau ke Medan juga kawan-kawanku ini”

Ternyata tuh abang adalah orang yang ngajari Leo tentang trik “bayar atas” Jadi artinya kami harus panggil dia, “Kakek Guru” :lol: Dan tips paling tepat yang diajarkan ke kami adalah “beli koran buat alas tidur”. Wiw, tips yang kemudian kami sadari sangat berguna :)

Memang sih, Pieps awalnya niat beli koran. Jadi sambil beli minuman ke kios di sekitar peron, dia nanya:

“Kak, ada jual koran?”
“Ini aja, dek” Kata si penjaga kios sambil menyodorkan kardus bekas :lol:

Sepertinya jurus jitu “bayar atas” udah bukan rahasia lagi yah disana. Pieps pun langsung ambil 2 kardus, satu buat ku dan satu buat nya. Dan penantian kami akan jadwal keberangkatan terjawab dengan suara klakson kereta api. Pertanda bahwa kereta api akan berangkat, segera. Ketika itu, jam sudah menunjukkan pukul 11.10.

Langsung aja melangkah mantap menuju gerbong barang, dan menapak masuk. Beuh, ampoon .. udah rame orang ternyata :shock: Tapi Kakek Guru sepertinya terus melangkah mantap ke ujung gerbong, kami pun menyusul. Tapi sampai disitu, kami di-”halau” sama penjaga gerbong. Dueh, kelihatan banget rece-recenya kami ini :oops: Terpaksa berdiri-diri dulu, lalu gelar kardus buat alas. Dan mulai pasang aksi “ketiduran”

Eh, setiap perhentian, ada aja yang naik. Belum lagi, pada bawa motor. Motornya juga gak ada yang sekelas bebek. Ada lah mbah-nya motor, ada kakek-nya motor, ntah apa-apa lah julukan SPG itu (SPG=Sang Penjaga Gerbong). Dan jelas saja, makin lama kami makin tergusur. Huehehehe.. menarik juga, ketika melihat ekspresi orang yang baru naik. Mereka sama terkejutnya. Tetapi, ketika kereta sampai dan berhenti di Kisaran. Asli, semua jadinya pada berdiri karena muatan sepeda motor udah membludak :? Satu-satunya orang yang tetap lelap adalah Kakek Guru yang tidur nyenyak beralaskan tasnya, di lapak ujung gerbong *mastur…mastur*

Pieps ogah nungguin yang gak jelas, langsung maju ke tengah gerbong. Eh, nemu lapak kosong, bisa buat 2 orang. Tanpa ba-bi-bu, langsung gelar alas tidur yang sudah ditenteng sedari tadi, dan pasang aksi “ketiduran” lagi supaya gak diusik orang :lol: Rupanya, aksi sukses, dan kami pun tidur lelap sampai di Medan.

Tiba di stasiun kota Medan, sekitar jam 5.10 pagi. Kami langsung cari dimana petugas klaim kendaraan yang masuk bagasi. Udah jalan ujung-ke-ujung stasiun, kami hanya menemukan kantor pengiriman barang yang masih tutup. Rupanya gak jauh-jauh, si SPG itu juga orangnya. Begitu dia turunin sepeda motor, tinggal kasih tunjuk resi. Udah, lanjut! Kami pun meluncur ke Pancing (warnet de L’Esperanza).

Kaki masih berasa pegal gara-gara kecapekan mendaki air terjun, plus gara-gara gak bisa selonjoran waktu tidur. Tapi rasanya puas banget, bisa mengalami perjalanan seperti ini. Motto yang kerap dipakai selama road trip ini,

“Apapun kejadiannya, nikmati aja”

Karena sebenarnya, seperti apa pun kesulitan yang dihadapi, tak ada gunanya mengeluh atau menggerutu. Itu hanya akan membuat harimu bertambah buruk.

Posting Terkait:
 

Komentar

5 Komentar to “Road Trip, The Story (2)”
  1. wokehlah pra….
    perjalanan yang seru tuh pra….

  2. Nich says:

    hee,hee .. begitulah
    :hehe:
    yang pasti, puas lah.

  3. roded says:

    pengalamannya seru juga (dan kedengarannya capek juga pas di kereta).

    kira-kira begitu lah, capeknya benar-benar berasa :phew:
    Tanggal Jawab : Selasa, 10 Juni 2008 15:04:09
  4. elmo says:

    seruuuu kali perjalananna ^^ sampe pake acara bobok :D

    eh? bobok apa nih maksud elmo?
    :gaktau:
    Tanggal Jawab : Rabu, 11 Juni 2008 00:11:14
  5. pieps says:

    “Apapun kejadiannya, nikmati aja”, awak bilang tuh untuk menghibur diri sendiri.
    apa bikin?(kamus janggal leo). Mau gimana lagi, menggerutu gak guna.

Komentar, ada?

Untuk menampilkan foto pilihan pada komentar anda, silahkan mendaftarkan diri di Gravatar

:hihi: :hiks: :melet: :nangis: :ngakak: :puyeng: :sip: :nyembah: more »

Tolong berkomentar yang nyambung yah..
Soalnya kalau cuma mau nyari backlink, kamu gak bakalan dapat apa-apa karena blog ini sudah tidak lagi do-follow.

WP Theme & Icons by N.Design Studio :: Retouched by Nichive·Remaja
Entries RSS Comments RSS Log in