Tangkahan-Bukit Lawang Road Trip 2010

Nhaa.. ini dia liputan hasil perjalanan sekte GOCI ke Tangkahan dan Bukit Lawang (7 – 10 April 2010). Kalau ada yang merasa update-nya terbilang telat, yah harap maklum saja..

Pucuk dicinta, ulam pun tiba

Itu adalah kalimat yang kuucapkan setelah lawan bicara di telepon menawarkan kesempatan untuk berangkat ke Tangkahan. Sudah lama memang niat untuk ke Tangkahan dirancang, tapi ntah kenapa, segala sesuatu yang direncanakan jauh-jauh hari.. pasti ujung-ujungnya batal. Oleh karena itu, ketika tawaran dari Adieska datang menghampiri, dengan sigap aku tangkap. Berharap agar kaidah 3D bisa benar-benar berlaku untuk rencana yang satu itu.

Para Pelaku

Mulyadi Pasaribu

Pimpro

nich-driver-road-trip

Supir Panjang

mamat-getek

Nahkoda Getek

ndro-melalak

Pelalak

Perjalanan ini sebenarnya urusan bisnis, tapi gak GOCI namanya kalau tidak bisa mewujudkan “business meet pleasure“. Walaupun formasi tim tidak lengkap (ntah yang mana versi lengkapnya, aku pun tak tahu) tapi setidaknya tujuan utama perjalanan tercapai. Dua kantor CDOC (Conservation & Digital Opportunity Centre) yang berada di bawah wewenang OIC (Orangutan Information Centre) sukses kami kerjai, yaitu CDOC Tangkahan dan CDOC Bukit Lawang. Dan perjalanan pergi-pulang yang walaupun jauh, plus mutar keliling, dapat kami tempuh secara aman dan terkendali. Gimana gak aman coba, kalau mobilnya macho kaya’ gitu..

lintas-jembatan-rusak

Jalan tanah, jembatan rusak, kebun sawit..

Ada satu kutipan yang aku dapatkan ketika aku secara sok-pintar mengeluh tentang kondisi jalanan yang jelek, jarak tempuh yang lama, serta pengaruhnya terhadap peluang pariwisata Tangkahan.

Bang Eka, salah seorang guide Tangkahan, punya jawaban yang membanggakan

Jalan menuju surga memang lah, tidak mudah

Surga Tersembunyi

Tangkahan memang dikenal dengan sebutan “the hidden paradise in Sumatra“. Bukan tempat wisata yang asik buat tipe “koper”, kurasa. Tapi buat pelancong tipe “ransel dan kancut” seperti kami, ini adalah peluang emas untuk melarikan diri dari rutinitas kota (apalagi yang hidupnya hari-hari melototin layar monitor). Sebagai bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser, tak heran kalau keragaman hayati di dalam hutan ini, masih terbilang kaya dan secara pribadi cukup mengagumkan buatku (emak ku aja sampai berkaca-kaca karena gak jadi kubawakan anggrek hutan).

Mega Inn

Mega Inn di Tangkahan

Selama dua hari berada di Tangkahan, kebutuhan untuk tempat berteduh dan beristirahat, terakomodasi oleh sebuah penginapan dengan nama Mega Inn. Tempatnya terbilang alamiah, pelayanannya memuaskan, kopinya mantap, dan tamu-tamunya juga ramah (terkecuali sekte GOCI yang bikin aksi pembubaran massa di malam terakhir)
:hihi:

Oh ya, kenapa “alamiah” saya sebutkan di urutan pertama? Bukan hanya karena bahan bangunannya masih menggunakan kayu dan berdindingkan tepas, tapi karena di Tangkahan itu belum masuk listrik. Dalam satu hari, kesempatan buat menikmati arus listrik yang bersumberkan genset, hanya tersedia antara pukul 6 sore sampai dengan 11 malam. Sisanya, asri menyatu dengan alam (terkecuali kami yang harus ngejar tayang program CDOC).

:: Lanjut ke berita berikutnya ::
Keseharian di Tangkahan