Storify: Update Blog Gak Musti Repot

Bingung, gak tahu mau nulis apa

Barangkali ini adalah alasan yang paling banyak dilontarkan oleh teman-teman yang mengaku dirinya blogger. Yang merasa punya tanggung jawab untuk menghadirkan tulisan baru pada blog-nya masing-masing. Yang pada tulisan ini, kuartikan; blogger sebagai pengelola sebuah web-log seperti blogspot (blogger.com) atau WordPress. Pokoknya yang platform-nya bikin-bikin tulisan seperti ini lah.

Mengenai update blog, sepertinya semua juga setuju, bahwa sebuah postingan juga bukan asal update. Bukan asal jadi. Inilah yang sepertinya membuat kebanyakan teman-teman blogger menjadi semakin lambat dalam menghadirkan postingan baru pada blog-nya. Itu juga kalau dari awal sudah punya ide, lho. Kalau belum punya ide, kembali ke baris pertama postingan ini.

Disclaimer: postingan ini bukan tentang cara mencari ide untuk ngeblog.

Tulisan ini sebenarnya sharing pengalamanku saja. Bahwa ketika sebuah blog dikelola, isinya tidak wajib melulu tentang diri sendiri, koq. Isinya tidak melulu harus sarat dengan opini pribadi. Isinya boleh saja menceritakan suatu hal yang terjadi di tempat lain, dan kita tidak terlibat di dalamnya.

Tapi kalau tidak mengalaminya sendiri, darimana tahu fakta dan situasi yang terjadi? Apa yang mau ditulis?

Kalau cari sumber luar, ujung-ujungnya copy-paste, dong? Atau rewrite?

Ya, sengaja aku tambahkan baris kedua, tentang copy-paste. Karena banyak yang menanyakan tentang “boleh gak, kita copy-paste tulisan orang lain saja, demi update baru di blog” — seperti pertanyaan Furqan di #wp10 kemarin.

Ini adalah tentang menyusun sebuah cerita, dari berbagai sumber, dari internet, bermodal beberapa klik.

Berkenalan dengan Storify

Aku punya kebiasaan baik nih; yaitu selalu melakukan riset (baca: googling) jika menemui sebuah informasi — yang bisa saja kudapat dari obrolan dengan seorang teman, update status di wall Facebook, RT di Twitter, atau broadcast BBM (eh, itu dulu). Kebiasaan ini kulakoni, karena terlalu sering pesan hoax beredar di tengah-tengah masyarakat.

Dan karena sering kali proses googling ini sendiri tidak pernah menggunakan rujukan dari satu situs saja, alhasil tab yang terbuka di browser Chrome-ku pun bisa jadi sangat banyak. Dan artinya waktu pun terbuang. Waktu yang sangat berharga yang seharusnya bisa kumanfaatkan untuk membuat satu postingan baru di blog ini.

Daripada meratapi nasib, ya sudah, apa-apa yang kutemukan dari googling tadi, kuceritakan saja. Bukan, bukan langsung menceritakan kesimpulannya, atau memaparkan nyari pakai keyword apa-apa saja.

Tapi disusun secara apik dengan menggunakan Storify. Seperti ketika dua hari lalu aku terusik dengan kicauan di twitter yang mengatakan bahwa perayaan Waisak di Borobudur rada kacau; cari sana, cari sini. Klik dan klik. Jadi deh, satu cerita.


Aku ingat, ketika pertama kali diajari njepret sama bapakku, dipesankan bahwa fotografer itu musti berani.
Berani maju ke depan, demi mendapatkan foto yang bagus. Maklum, tahun 90-an dulu belum punya kamera dengan lensa yang bisa zoom-in.


Kurasa kalau pun contoh story di atas dijadikan entry di blog, sah-sah saja lah — kau mencatatkan apa-apa yang kau temukan, dan menyajikannya secara online. Halo, blogger. Kamu telah membantu menyebarkan pikiran dan karya orang-orang lain.