Mujizat Kalau Delay

Celoteh 5 Komentar »

Setelah mengikuti FGD Online Ethics Code drafting kemarin, aku kembali ke Medan pada hari Sabtu (17 September 2011). Dari awal sih memang sudah ambil tiket PP, soalnya berharap bisa ketemu dengan teman-teman yang ikutan dalam acara ON|OFF chapter Medan.

Dikarenakan ada teman yang mau nitip barang, jadi rencananya setelah check-out dari Hotel aku tinggal meluncur ke Perempatan Pancoran. Tapi rencana pun harus berubah. Si kawan nelpon dan bilang kalau dia dapat instruksi mendadak dari atasannya, dan aku diarahkan ke titik pertemuan yang berbeda. RS Hermina. DEPOK!

Dasar aku yang buta peta, diiming-imingi “tinggal lurus aja” pun aku nurut.

Dan setelah tertidur 2 kali, dan terbangun karena taksi yang kutumpangi nabrak mobil orang. Akhirnya aku tiba di rumah temanku itu.

Jam berapa pesawatnya, Nich?
Jam 4.20 take off, jawabku
Eh? Ini sudah jam 2. Perjalanan kesana makan waktu 2 jam lho. Udah, langsung jalan aja.

D’oh! Dari awal aku memang sudah wanti-wanti masalah jarak tempuh dan kondisi jalan. Aku gak mau sampai ketinggalan pesawat. Selama perjalanan, aku sempat was-was. Tapi karena jalanan padat akibat arus weekend, dan dua kali nemu perbaikan jalan di tengah tol – yang bikin macet – akhirnya aku memilih pasrah sempurna.

Si kawan pun sibuk BBM-an dengan aku, menanyakan posisi, menanyakan jalan mana yang ditempuh driver taksi, dan berbagai macam hal lainnya yang cuma kutanggapi dengan emoticon ketawa-ngakak-guling-guling. Dalam perbincangan telepon, antara aku dan dia, sempat kubilang “ya udah banyak-banyak doa supaya pesawatnya delay” dan dia berkata “mujizat kalau sampai delay

Aku memilih untuk mencoba sampai di counter check-in, dan melihat hasil dari usaha keras si bapak driver yang sudah berkali-kali melampaui batas kecepatan maksimum (ditandai dengan suara alarm yang bunyi lagi-dan-lagi). Tiba di counter, dengan sikap tak berdosa, kusodorkan itienary penerbangan yang sudah kusiapkan.

Petugas counter check-in pun berkata.
“Maaf, pak..”

“penerbangannya delay sampai 17.30″

Pengen teriak. Pengen loncat.
Tapi kupilih untuk tersenyum saja, lalu dengan ramah kubilang “Gak papa, mbak. Yang penting bisa pulang hari ini.”

Baca kelanjutannya.. »

Indonesia 66

Celoteh 3 Komentar »

Banyak cara yang dilakukan orang untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-66. Jika ada yang bertanya, “Apa acaramu, Nich?” Mungkin jawaban pertama dariku adalah: “Ikut upacara bendera di sekolah”

Kalau boleh aku menduga, sebagian besar pembaca blog ini tidak termasuk dalam kelompok umur yang setiap Senin masih upacara bendera di sekolah. Dan saya sendiri, (kalau tidak salah ingat) terakhir kali ikut upacara bendera sekitar tahun 2005. Momennya sama, peringatan HUT RI.

Agak deg-deg-an juga sebenarnya waktu ikut upacara bendera, berhubung anakmudanya di tempatkan di baris paling depan kelompok guru, jadi merasa was-was kalau sampai salah laku. Diriku benar-benar ter-ekspos! Satu kesalahan pun terjadi, tak begitu ingat ketika aba-aba apa, sepertinya waktu itu aku memang seharusnya pasang sikap “hormat”. Tapi aku malah bengong sendiri
:wadoo:

Aktifitasku lainnya, tidak terlalu berkaitan dengan peringatan yang satu ini. Soalnya berhubung bulan Ramadhan, di kompleks rumah juga tidak ada acara perlombaan seperti yang tiap tahun diadakan. Kalau pun ada, pasti lah aku yang menang juara makan kerupuk
:hihi:

Di menit-menit luang, aku coba akses twitter untuk melihat semangat dan kegiatan yang orang-orang lakukan dalam menyambut HUT RI yang ke-66 ini. Banyak tweet yang mengutarakan harapan mereka tentang “merdeka itu…” dan banyak juga yang isinya memberitakan berbagai kegiatan mengisi hari sekaligus memperingati tanggal 17 Agustus.

Jujur, sebenarnya beberapa hari terakhir, memang aku merasa sedikit terusik dengan beberapa ucapan dan opini orang-orang tentang usia Indonesia yang sudah merdeka 66-tahun tapi “percuma merdeka“.

Baca kelanjutannya.. »

Tayang Pilih

Celoteh Baru 1 Komentar »

Selama tujuh hari pelaksanaan puasa pekan pertama Ramadhan, sejumlah stasiun televisi menyiarkan program kuliner. Karena saya mengimbau agar adegan makan dan minum dihindarkan, apalagi penayangan lebih banyak di siang hari

Itu sejumput kutipan protes dari anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Iswandi Syahputra. Kita jangan serang institusinya yah, juga jangan serang orangnya. Karena si bapak punya statement yang juga bagus

Ya ini sudah waktunya stasiun televisi untuk ‘tobat’ dari segala tayangan yang tidak mendidik

censoredSebenarnya, yang mau aku pertanyakan adalah apakah kita memang masih perlu televisi sebagai media informasi? Atau TV sebenarnya hanyalah bentuk akhir dari sebuah layanan jasa yang berusaha untuk menjamin bahwa apa yang disiarkan adalah “baik” untuk semua orang, “pantas” untuk semua umur, dan mendukung kesejahteraan hidup orang banyak?

Baca kelanjutannya.. »

WP Theme & Icons by N.Design Studio :: Retouched by Nichive·Remaja
Entries RSS Comments RSS Log in