Bioritmik yang Kacau

Sekarang pukul 4:21 dini hari, dan aku sedang berjuang keras menahan kantuk. Mungkin yang sudah kenal aku bakalan bertanya-tanya kenapa “sudah” ngantuk di jam segini. Asal-mu-asalnya sih, dari usahaku berusaha membalikkan pola tidur (dan kerja) ke posisi normal semenjak hari Minggu kemarin, selepas kop-dar.

Kronologisnya,

  1. Aku berusaha menyelesaikan segala urusan hari itu dengan harapan, sebelum pergantian tanggal aku sudah terlelap. Dan aku berhasil, sekitar jam setengah dua-belas malam (belum masuk pagi dini hari) diriku sudah hanyut dalam peraduan a-la Jepang (baca: tidur melantai)
  2. Jam lima pagi, lewat dikit lah, aku terbangun. Kondisi sih, selayaknya orang yang baru tidur pulas, mata belek-an. Oke, aku turun ke warnet, buat main game!
  3. Jam tujuh, aku sarapan seperti biasa (ga boleh tidak). Sambil ngurusin kerjaan online sampai jam delapan lewat.
  4. Lucunya, jam setengah sepuluh.. AKU NGANTUK LAGI!

:hmmm:

Sepertinya ini badan udah gak sanggup beraktifitas di siang hari lagi. Asli, seharian aku ngantuk terus-terusan. Mana aku ada kerjaan yang mengharuskan diriku kelayapan naik Kawasaki di bawah teriknya sinar matahari. Gak bisa KULIBUT lah (kamus Rizki tuh), jalan pelan-pelan kaya’ orang ngirit bensin.

Di tempat-tempat persinggahan, diriku udah pengen tidur aja bawaannya. Tapi dipikir-pikir lagi, ntar malah makin kacau siklus irama tubuh ini. Jadi diriku paksa supaya nih mata tetap melek dan nih badan gak lemes-lemes kaya’ kena penyakit Lalat Tse-Tse. Perjuangan yang sulit buatku, karena otak juga rasanya gak mau diajak kerjasama. Gak mau mikir lagi dia.

Memang ritme ini susah untuk diubah seenak udel, karena bukan cuma fisik yang mempengaruhi. Tapi emosi dan mental juga jadi faktor penentu. Komplit lah tantanganku, emosi gimana ngontrolnya? Mental gimana ngontrolnya?