Dokter itu, Mengajar

The doctor of the future will give no medication, but will interest his patients in the care of the human frame, diet and in the cause and prevention of disease. ~ Thomas A. Edison

Kutipan di atas, yang diklaim pernah dikatakan sendiri oleh Thomas A. Edison pada akhir 1902[referensi], mulai kupahami perwujudannya beberapa bulan belakangan ini. Adalah perkenalanku dengan seorang dokter yang membuka wawasanku tentang dunia pengobatan kita. Namanya dokter Lenny, beliau menjalankan sebuah klinik yang menerapkan metode holistik dalam penanganan pasiennya.

Metode Holistik?

Jika kalian bertanya-tanya, apa itu holistik, aku pun dulu sempat berada di posisi itu. Kupikir dulu holistik itu tak lepas dari dupa dan pembacaan aura atau energi spiritual, dan sejenisnya. Tapi secara di 2015 ini akses internet tidak terlalu sulit untuk didapat, aku search saja; dan ternyata holistik berasal dari bahasa Yunani holos yang dalam bahasa Inggris modern berarti “whole” (Indonesia=seluruh).

Kalau boleh aku simpulkan, metode holistik ini adalah cara pemulihan kondisi pasien, dengan mempelajari seluruh aspek yang mempengaruhi pasien sehingga kondisi (sakit) tersebut terjadi. Jadi, metode ini tidak hanya mengobati gejala klinis penyakit tertentu.

Ibarat kata, kalau ada yang sakit kepala kronis, gak cuma dikasih obat pereda nyeri yang ampuh bin mujarab yang diminum setiap kali sakit untuk menghilangkan sakit. Tapi dicari tahu penyebabnya. Apakah karena pola makan, atau beban pikiran, atau apa. Sehingga kondisi tubuh pun dapat dibenahi dengan tepat agar sakitnya hilang dan tidak kambuh lagi. Gimana, kedengarannya mantap kan?

Tapi prakteknya tak semudah teori..

Menguatkan Pasien dengan Mengajarinya

Dokter Lenny pernah mengatakan, bahwa peran dokter dalam pemulihan, palingan hanya 30%. Sisanya ditentukan oleh pasien. Dan benar bahwa yang tahu kita sakit, ya kita sendiri. Yang bikin kita sakit juga, ya kita sendiri. Jadi wajar dong, kalau harus pasien yang ‘kerja lebih keras’. Ribet ya (?)

Kata ‘dokter’ memiliki sejarah panjang.
Jangan bingung ya, ada perbedaan antara ‘dokter’ yang ahli penyakit, dengan ‘Doktor’ yang gelar pendidikan Strata Tiga (S3).

Pada salah satu kesempatan perbincanganku dengan dokter Lenny, beliau pernah mengatakan bahwa kata dokter itu berasal dari bahasa Latin,  docere, yang artinya mengajar. Dan sepatutnya inti dari ilmu pengobatan adalah mengajarkan dan membimbing pasien pada jalan menuju kesehatan. Aku sudah coba cari referensi, dan kalian bisa lihat kalau pernyataan tersebut bisa dilihat di dalam buku ini: Prinsip & Praktik Ilmu Endodonsia.

kutipan-thomas-a-edison-dokter

Dokter di masa depan menurut Thomas A. Edison

Menghabiskan waktu dengan pasiennya, menjelaskan diagnosis, membahas pilihan perawatan yang ada, atau sekedar ngobrol, seperti itulah peran dokter jika merujuk ke aspek ‘mengajar’ tadi. Tapi zaman mengubah segalanya. Sekarang, berobat ke dokter itu lebih lama di ngantrinya ketimbang waktu tatap muka (yang jarang melebihi 10 menit). Dan sayangnya pula, karena waktu yang terbatas, beberapa pertanyaan tak sempat diutarakan. Tak jarang kejadian, setelah konsultasi, banyak pasien yang (justru) merasa cemas atau mempertanyakan kemampuan sang dokter. Apalagi jika setelah pulang dan minum obat yang diresepkan, pasien kecewa karena sakitnya masih ada (atau sembuh sebentar, lalu kambuh lagi).

Paragraf di atas bukan mau mendiskreditkan mereka yang berprofesi sebagai dokter. Setiap kisah itu ibarat sekeping uang logam. Punya dua sisi. Dokter yang melayani punya keterbatasan, demikian juga dengan pasien yang datang tanpa persiapan. Jadi aku mau bagi tips nih, berhubung kami pun pernah terapkan beberapa poinnya ketika mempersiapkan kelahiran si Oscar.

  1. Tuliskan pertanyaan penting terkait kondisi kesehatan yang dikeluhkan. Gak usah banyak-banyak, yang penting-penting saja.
  2. Bawa serta keluarga atau teman ketika melakukan konsultasi dengan dokter. Dan selalu diskusikan terlebih dahulu pertanyaan dari poin nomor 1 di atas dengan mereka.
  3. Pilih jadwal yang awal, yang memungkinkan untuk bisa berinteraksi dalam durasi yang lebih lama dengan dokter. Kalau datang menjelang jam tutup, biar dokternya berhati mulia, kalau udah kecapekan ya capek aja.
  4. Manfaatkan internet untuk mencari referensi tentang dokter yang memberikan pelayanan seperti aspek docere tadi. Sehingga pulang konsultasi, selain dapat obat, kita juga tahu musti membenahi apa dalam hidup ini.

Mari menjadi cerdas. Kalau bisa sehat secara menyeluruh, jangan terus-terusan merasa cukup dengan meredanya gejala penyakit. Jadikan dokter sebagai penuntun, dengan mempersiapkan diri sebagai orang yang mau belajar dan mau dibimbing. Dan ingat, sama seperti kalau mau makan, sebelum makan obat juga selalu lah berdoa padaNya.

  • Semoga semua dokter kita di Indonesia ini membaca tulisan bro ini… Senang sekali rasanya kalau dokter komunikatif kepada pasien, ramah, memberi saran dan tidak selalu menyarankan minum obat. Ada satu buku yang bagus mengenai kedokteran bro. Judul bukunya The Miracle of Enzyme ditulis oleh Dokter Hiromi Shinya dari Jepang. Jadi katanya manusia tak butuh obat, tapi perlu memproduksi enzim dalam tubuh untuk memproteksi tubuh dari setiap penyakit. Contoh kecil, kalau jari kita tergores, biarkan saja pasti akan sembuh dengan sendirinya. Karena tubuh kita sebenarnya sudah dilengkapi dengan obat, yaitu enzim tadi. Ibarat komputer, tak perlu lagi antivirus, sudah ada antivirus bawaan.

    • Mengenai ‘enzim’ juga pernah dibicarakan oleh dr. Lenny itu, bro.
      Benar bahwa tubuh punya enzim yang berperan dalam berbagai proses. FYI, kebiasaan tertentu bisa meningkatkan/mengurangi produksi enzim di dalam tubuh, dan ketika enzim yang dibutuhkan hanya tersedia dalam jumlah yang sedikit — maka sakitlah kita.

  • aizeindra yoga

    aku pernah mengobrol dengan mahasiswa farmasi, nah saat dia tanya aku sakit apa, aku jawab “kamu kan ahlinya, masa ditanya lagi” lalu dia panjang lebar jelasi metode ini, walaupun dia tidak menjelaskan namanya, barulah aku tahu metode holistik ini bang nich