Beberapa hari ini siaran berita di televisi rada menarik, isinya lumayan beragam; mulai dari kasus Antasari vs KPK, trus gonjang-ganjing hasil Pemilu, dan yang paling menarik adalah tentang kisah Mbah Surip yang mencuri perhatian Indonesia.
Kenapa dengan Mbah Surip? Ya, aku pun bertanya-tanya kenapa media sepertinya berkejar-kejaran ngebahas ompung yang satu ini. Mulai dari mengupas kisah perjuangannya yang mengajarkan bahwa tidak ada jalan singkat untuk kesuksesan – sampai urusan harta gono-gini milik almarhum. Bayangkan, urusan harta orang pun dikupas tuntas; mulai dari royalti RBT, penarikan rumah-bonus, sampai kepada cicilan sepeda motor.
Mengutip kata-kata Green Goblin ketika mengajak Spiderman untuk berkoalisi;
But the one thing they love more than a hero is to see a hero fail, fall, die trying
Ya, begitulah kesan yang kutangkap dari media belakangan ini.. Bukan klaim sepihak, hanya opini personal aja. Bahwa segala sesuatu yang bisa diekspos ke orang banyak, adalah pantas dijadikan berita. Namanya juga media massa.
Bagiku beliau cocok dijadikan contoh sebagai orang yang tak pernah mencapai masa anti-klimaks. Ya, wajar.. mbah Surip meninggal dunia di puncak kesuksesan. Menurutku itu luar biasa. Disaat orang lain tak pernah merasa cukup, beliau malah tetap dalam kebersahajaan dan tak sempat menuai cerca dari media dan khalayak publik. Walaupun beberapa narasumber, menurutku sok-sok bikin kesimpulan tentang penyebab kematian mbah Surip, padahal toh jasad-nya tak diotopsi. Tapi ya itu lah media, di awal statement kata “mungkin” diucapkan dengan datar.. tapi makin lama intonasi pun semakin tinggi, seakan pasti.
Selamat jalan, mbah. Dibalik tawa mu yang bagi beberapa orang dianggap sekedar aksi lucu, tapi menurutku kau sudah berkarya sebagai anak bangsa (gak seperti beberapa yang cuma cuap-cuap doang).

























Pingback: Musim Artis Setor Muka ke Akhirat « 404 Blog Page