SIAL!
Oke, apes .. kuwalat, atau bad luck mungkin cukup sering terdengar (atau terucap) diantara kita-kita ini. Tetapi aku benar-benar gak bisa menerima begitu saja keberadaan tersebut. Barangkali itu hanya lah kata-kata yang diciptakan untuk mengakhiri rentetan pertanyaan “kenapa” yang menghantui..
Beberapa hari lalu, anakmudanya dibikin repot lagi. Insiden kali ini adalah laka lantas, dalam perjalanan pulang ke rumah untuk menikmati kenyamanan yang lebih. Bukannya nyaman yang didapat.. bahu nyeri, kaki kaku, dan malahan sampai sekarang jari ini masih harus dilatih supaya bisa segera pulih. Makasih buat yang udah nemanin chatting, itu merupakan terapi yang bagus buat jari-jari ini..

Nah terkait insiden itu – sengaja pilih kata itu karena lebih cenderung berarti “kejadian” daripada “naas” – sebenarnya memang konyol juga sih kalau dipikir-pikir. Jangan ditanya tabrakan dengan apa, agak kurang bergengsi emang kalau aku kasih tahu kemarin kawasaki ku tabrakan dengan becak *halah.. keceplosan*

Apa yang aku angkat ini bukan sebuah penyesalan, hanya sebuah penelusuran untuk membuktikan bahwa tidak ada yang namanya kebetulan atau hal-hal yang terjadi tanpa disebabkan oleh aksi kita sendiri. Jika saja kemarin aku ambil jalur kanan untuk memotong laju becak tersebut, gak bakalan gini deh kejadiannya. Atau jika saja aku kemarin tidak memutuskan pulang, dan memilih beristirahat di basecamp (setelah begadang semalaman, maintenance warnet di Kp. Lalang) kemungkinan besar becak itu tidak akan kutemui.
Banyak “if” lainnya yang bisa dirangkai, tapi runtutan “if” sebelumnya memang mengarahkan aku ke insiden tersebut. Coba dari waktu yang lebih lama lagi; si bapak yang bawa becak itu lulus ujian CPNS, barangkali di hari Selasa itu, dia lagi duduk manis di kantornya – bukannya bikin manuver gila 180 derajat di tengah jalan!

Diriku emang lebih menerima penelusuran deduktif daripada percaya kepada hal-hal seputar primbon atau weton. Walaupun keduanya bisa bertemu di titik kelahiran ku yang Senen Kliwon, tetapi kaya’nya terlalu jauh lah menarik penelusuran ke 25 tahun yang lalu, hanya untuk memprediksikan hal sesepele itu. Sepele? Ya iyalah, kecuali si bapak sampai ngenalin anak gadisnya yang menarik nan rupawan dan ngalah-ngalahin perawakan Leah Dizon.. itu baru penuh arti.
Komentar
12 Komentar to “Gak ada yang namanya”Ping-balik
Apa pendapat yang lain tentang tulisan ini..-
[...] Oh ya, kenapa harus menjalani perbaikan? Itu karena di bulan Oktober yang lalu, anakmudanya mengalami laklantas yang dikenal dengan INKATOR (insiden kawasaki VS betor) [...]
























jaaaaah, ternyata anakmudanya tabarakan ama BECAK toh
makanya pra….klo lagi naik motor itu jangan ngelamunin “kenapa si julia perez ciptain lagu BELAH DUREN”
*sori pra, becanda..i`m sorry to hear that ajalah ya pra.
Wah, pasti sedih ya…
Ya, tapi tetap disyukuri dong,

soalnya “kejadiannya” gak makan korban..
pas tuh bang, klu muncul kata “kebetulan” mulu, wah kapan kita bisa instrospeksi diri, ya nggk???
nah, sebagai bahan introspeksi, jalan bawa Ninja dulu bang beberapa hari ini, naik sepeda aja dulu, hehehehehe..
Cuma mo bilang DL alias Derita Loe..
wakakakka
Saya tertarik dengan bagain yang ada Leah Dizon-nya nih…
*sayang doi udah nikah*
“Kutunggu Jandamu..”
thanks buat singgah
Yaah, semoga lain kali bisa lebih hati2 lagi dan cepat sembuh ya ?
Mmmm.. itu motornya nggak apa-apa ? *kabuuurrr*
Jangan marah-marah bang wkwkwkk
Beuh… Dah sembuh lae??? Masih mending tabrakan ama becak lae… daripada ama trotoar atau pembatas jalan
Aduh lae… kok bisa nabrak Beca lae…
Jadi Becaknya ga apa-apa kan..? Kau kasi nya duit ganti rugi becaknya… aduk kasian kali tukang becaknya lae hehehe… Becanda Lae
Jadi udah sehatnya kan lae,…
“Atau jika saja aku kemarin tidak memutuskan pulang, dan memilih beristirahat di basecamp”
aku juga berpikir seperti ini bang, ketika aku kejadian bukan naas sepulang dari banteng takeshi