Beberapa waktu lalu, aku ber-chatting ria dengan adikku yang di rumah (kami sama-sama di Medan, tapi dia di rumah ortu dan aku di basecamp). Ada kejadian yang dia ceritakan, dan bikin anakmuda-nya naik spaning..
Sore itu, adik ku duduk-duduk di teras rumah. Tentunya sambil ditemani BlackOut, anjing peliharaan keluarga kami. Lalu bapak-ku pulang dari rutinitasnya main tenis, bermaksud mau parkir mobil di garasi, maka gerbang rumah pun dibuka. Waktu itu ada seorang bapak melintas sambil lari-lari (mungkin dalam benaknya terngiang “yang tadi… yang tadi…“) gak jelas lah kenapa dia lari terburu-buru.
Mungkin anjingku punya ego segedabak bagong milik pemecah rekor lari cepat jarak pendek (pantang kalah). Dia langsung lari keluar rumah nguber si bapak. Nah, si bapak tahu keberadaan anjingku di belakangnya – tanpa ba-bi-bu langsung mungut batu dan berpose hendak melempar tuh binatang. Sambil teriak “Anjing kau…!”
Waktu adikku cerita sampai disitu, aku langsung sela. Kutanyakan “Trus si BlackOut ngejawab gak?” Ntah dibilangnya “Tau kau yah, aku ini anjing..” gitu maksudku. Tapi tentu saja dialog itu tidak pernah terjadi..
Ya pokoknya tidak ada yang terluka di bagian cerita itu (gak seru yah?), anjingku pulang ke rumah dan si bapak sudah pergi entah kemana. Tapi tak lama kemudian, setelah gerbang kembali di tutup, pada waktu bapak-ku nurunin peralatan tenis dari mobil. Si bapak tadi datang naik mobil, lalu dari mobilnya dia bilang “Anjingnya besok diikat, kalau enggak dibunuh!”
Tau apa jawab bapak-ku?
Ya besok kita potong aja, Pak.
Bukan ucapan bapak-ku yang bikin aku naik spanning (gak mungkin ada niatnya nyembelih si BlackOut) Tapi cara si bapak yang protes itu. Gak ada bedanya dengan anjingku, tanpa salam-tanpa sapa… langsung nyosor aja, nyolot pula

Kupertanyakan kemanusiaannya. Kupertanyakan apresiasi dia atas bapak-ku yang kutahu jelas-jelas manusia. Kaya’ gak tahu tata-krama saja. Kurasa kalau aku disitu, dialog yang terjadi bakalan panjang, dan penuh sindiran-sindiran (palingan pas di akhir baru minta maaf). Marah? Boleh, emosi itu wajar.. Tapi ya marah-nya dibuat cantik dikit keq penyampaiannya.
Permisi Pak, saya mau marah-marah nih, atas sikap anjing bapak.
*#@!! #*_(E*%$>>!
Gitu kan bisa. Apa manusia jaman sekarang emang kalau marah, harus nunjukkin marahnya kaya’ di sinetron gitu? Mata-melotot, suara gede, urat leher mencuat, dan tanpa tata krama lagi? Herman deh gue..

-
http://firanza.blogspot.com firanza
-
soezanonyit
-
http://segelascappucino.wordpress.com boon_chiet
-
http://parlinsinaga.com/ parlin
-
http://adam.cikal.net blogger insyaf
-
http://beasiswabelajar.com Beasiswa Scholarship
-
http://raeyans.info raeyans
-
soezanonyit
-
http://gandamanurung.com thegands
-
http://helda.info HeLL-dA
-
http://www.bangmarbun.com bangmarbun
-
http://reallylife.info reallylife
-
http://not.saragih.net/blog ArieL, FX
-
http://www.sendalbirunie.com nie
-
http://hamarita.com hanstoe
-
http://www.georgetterox.blogspot.com Vicky Laurentina
-
http://oktaweb.net/blog okta sihotang
-
http://www.lowongan-bekerja.co.cc lowongan kerja
-
http://elmosphere.com elmo
-
http://belajarseo.com Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
-
http://joicehelena.wordpress.com luvnufz
-
http://www.hokya.co.cc joel
-
http://bazt.wordpress.com/ bazt























