Medan juga Macet
Tadi baru ngebaca blog si upiler, tentang semrawutnya jalanan ibukota, yaa.. lagu lama sebenarnya kan? Buat yang tinggal di ibukota, mungkin iya, sekarang permasalahanku.. Medan juga sudah mulai ikut-ikutan mengalami yang namanya macet. Jelas penyebabnya pertambahan jumlah kendaraan bermotor, sementara jalanan jarang nambahnya

Sehari-hari memang aku jarang keluar di pagi/siang hari, gak ada itu aktifitas rutin “ngantor” seperti yang mungkin banyak teman-teman alami (apalagi pakai nimbrung tabrakan bareng bus). Kalaupun aku harus keluar dari rumah atau basecamp, pastilah jika hari sudah gelap (soalnya aku tidur di siang hari). Hingga kemarin, ketika mengantarkan adikku ke tempat kerjanya. Baru kusadari Medan benar-benar crowded di siang hari..
Kalau jalanan dipenuhi oleh kendaraan bermotor (akibat pertambahan unit-unit kendaraan baru), apakah artinya perekonomian rakyat kita emang sedang bagus-bagusnya? Atau cuma manifestasi dari..
yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin
Dari setiap jenis pengendara kendaraan bermotor di jalanan kota Medan, aku sedikit lebih toleran sama supir angkutan umum. Walaupun para supir angkot Medan sudah dimaklumi akan reputasi berkendara yang kurang tertib dan aksi manuver kiri-tiba-tiba yang terkenal itu, aku nyadar; mereka itu mesti ngejar setoran plus menafkahi keluarganya. Lihat lah, sekarang orang sudah pada mampu untuk beli (baca: nyicil) kendaraan pribadi, lalu sepertinya produksi unit angkot yang baru juga jalan terus. Alhasil tidak berimbang antara ketersediaan calon penumpang, dengan jumlah kursi kosong di dalam angkot kota Medan. Jadilah, supir angkot bersaing satu sama lain, di jalanan kota Medan yang terus bertambah padat dengan kendaraan pribadi lainnya.
Stress emang menghadapi jalanan padat plus prilaku pengendara lain yang menunjukkan gelagat SIM-nembak-doang. Apalagi kalau bawa motorku si Kawasaki. Tau istilah “balap babi” gak? Motor ku itu ibarat babi.. larinya memang kencang, berkat modif sana-sini kerjaan adikku, tapi konsekuensinya satu: cuma jago di trek lurus. Alhasil sulit buat ngebut sambil manuver salip sana-sini tanpa nyenggol makhluk lain

Itulah kenapa aku setia dengan aksi “keluar malam” untuk menghindari kemacetan kota Medan. Kecuali malam Minggu.. ring-road Medan asli berubah jadi kaya’ jalan lintas Medan-Perbaungan (gak bisalah cheerful kaya’ si Helda kalau udah kejebak disitu)


Pingback: I'm Ready Joga | melalak