Menyerang tradisi panjat pinang dari sudut pandang tertentu sepertinya jadi kerjaan baru, setidaknya itu yang kulihat dalam minggu-minggu perayaan hari Kemerdekaan RI yang ke-64. Dua sumber; satu dari koran dan satu dari televisi, dengan jelas menekankan betapa tradisi panjat pinang harus di-”retas” ulang karena dianggap menggambarkan kondisi rakyat yang bergelimpangan dalam lumpur kemiskinan. Dengan jelas dilafalkan, bahwa tradisi tersebut adalah sebuah bentuk sindiran dari kalangan bawah untuk para pemimpin bangsa yang terbalut kenyamanan di atas sana.
Ya, orang bebas berpendapat, tapi aku memaknai panjat pinang dengan cara yang berbeda.
Pada 17 Agustus 2009 kemarin, anakmudanya memang gak bisa ikutan upacara bendera, tapi masih sempat nongkrong sama anak-anak tetangga dan teman-teman kost buat nonton perlombaan 17-an yang marak diadakan di tiap RT. Puncak acara yang ku tunggu-tunggu tak lain, tak bukan; Pertandingan Panjat Pinang!
Jujur saja, aku sempat lupa apa makna dari lomba yang satu ini. Kupikir, sekedar ajang pijak kepala kawan berhadiah.

Lima-menit.. tujuh-menit.. duapuluh-menit aku tonton, aku terkesima melihat perjuangan mereka.
Seorang pakar pernah menulis di Kompas baru-baru ini, kalau acara panjat pinang ini menunjukkan simbolisme rakyat yang menjadi tumbal bagi kemakmuran sekelompok kecil manusia yang bertengger nun jauh di atas. Well, aku mau bilang..
“kalau semua mau jadi direktur, siapa yang ngebersihin sampah kota, Pak?”
Aku sudah pernah ikut dalam lomba panjat pinang, dan satu yang kupahami:
Kalau aku tak sanggup lagi untuk memanjat ke puncak, aku harus siap untuk memberikan bahu (dan kepalaku) untuk mereka yang masih mau berjuang demi meraih kesuksesan. Disitu semangatnya. Disitu peranku.
Usaha untuk meraih kemenangan pun tidak dicapai dengan sekali kayuh, berulang kali para peserta terperosok ke dalam lumpur. Lagi-dan-lagi. Berkali-kali mereka harus mencapai batas ketinggian terakhir, untuk menghapus minyak gemuk (yang menjadi penghalang untuk mencapai ketinggian selanjutnya). Tapi lihat wajah mereka, gak ada yang mewek atau lari pulang buat ngadu ke bantal – yang kelihatan cuma tampang ngos-ngosan atau nyengir kuda.
Bukan masalah yang-atas nginjak yang-bawah yang harusnya jadi bahan cercaan, tapi bagaimana perjuangan untuk meraup hadiah itu yang kita dukung. Hadiah yang di dapat dari panjat pinang – walaupun yang ngambil hadiah satu orang, tapi dia ingat bahwa dia sampai di atas karena mereka yang di bawah. Jadilah hadiah itu dibagi-bagi. Nah, kalau masalah bagi-baginya yang gak adil, itu baru cocok di-”retas”.
Apresiasi atas Sebuah Perjuangan
Aku belajar banyak dari sebuah Perlombaan Panjat Pinang. Terutama tentang bagaimana cara menghargai mereka yang berusaha. Negara kita merdeka karena perjuangan para pahlawan dan pejuang tempo doeloe. Mungkin perjuangan mereka ini lah yang cocok diwakilkan lewat simbolisme panjat pinang. Banyak yang terinjak-injak, mengorbankan dirinya demi kibaran sang Merah Putih.
Tulisan ini bukan mengajak kita semua jadi sok kritis atau nasionalis berlebihan (saya pun hanya manusia biasa yang masih kurang disana-sini). Cuma berusaha menyadarkan bahwa ada satu pertanyaan yang masing-masing kita harus jawab;
Dimana peranku?
Lihat lah para penonton panjat pinang, ntah itu gak punya nyali atau sadar tak punya skill buat ikutan, tapi tetap hadir berpanas-panasan dilapangan. Tetap tertawa walau kena guyur air sama panitia, sambil meneriakkan
“Terus.. Tahan! Ayo..!”
Jadi, kalau pun kita hanya jadi penonton dalam perjuangan bangsa ini meraih kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih adil. Marilah kita beri dukungan buat mereka yang berusaha. Jangan malah mengundang segenap semesta untuk berpaling dari perjuangan tersebut.
Kalau pun kita terlibat dalam perjuangan bangsa ini, tetap lah semangat dalam setiap usaha. Walaupun berkali-kali terinjak dan terperosok dalam lumpur, kita jatuh bukan hanya untuk tersungkur diam, tapi juga untuk belajar berdiri kembali dan meraih tantangan selanjutnya. Merdeka!
Jika ingin meringankan beban hidup rakyat, tentu peran yang dapat ditempuh adalah beragam. Tapi kalau ada yang merasa perjuangan di pertandingan panjat pinang begitu berat, dan harus dihapuskan. Nyadar dikit, memang aturan mainnya kaya’ gitu. Jadi jangan kita samakan dengan beban perjuangan hidup rakyat!
Tulisan ini merupakan bentuk partisipasi anakmudanya dalam Lomba nge-Blog Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke-64 yang diselenggarakan oleh Telkomsel.
Jika anda menyukai tulisan ini, saya minta kesediaan anda untuk meluangkan waktu (dan pulsa) untuk mendukung saya dalam pooling blog favorit.
Caranya:
Ketikkan SMS dengan isi berikut ini:
BLOG<spasi>18
dan kirimkan ke
3931
Biaya tidak seperti SMS premium, hanya sebesar Rp. 500 + 50 = Rp. 550,- (sudah termasuk Ppn 10%).
Komentar
44 Komentar to “Memaknai Panjat Pinang”Ping-balik
Apa pendapat yang lain tentang tulisan ini..-
[...] saat panggilan Buzz dari yahoo mesengger menyuruhku untuk meluncur ke banteng takeshi (markas bang nichpakaich). Ternyata disana sudah datang terlebih dahulu bang adieska newbie blogger, bang eben, dan menunggu [...]
-
[...] jaringan UKM serta kerap menjadi motivator buat anak-anak muda supaya mau berkarya. Jadi.. dimana peran kita? Posting Terkait:Menuju Pesta Danau Toba 2009 Waaa, anakmudanya sekarang sudah berada di Laguboti [...]


























di tempatku bukan panjat pinang tapi panjat bambu tapi makna dibalik itu tetap sama dengan panjat pinng kok :D
tapi kok yang di gambar itu pakai baju ya? klo tempatku lepas baju lho, biar olinya ga; cepat habis. apa ada makna lain ya?
barangkali karena banyak anak kecil yang nonton tuh, jadi biar gak kena UU-APP

besar pengaruh pelantikan itu yah
bukan karena pelantikan, emang moment-nya lagi pas aja

Mungkin pendapat2 yang “tidak benar” itu juga diakibatkan degradasi budaya kita (mereka).. huh..
coba kalo panjat pohon aren, gmn ya??
ngambil tuak kita?

kapan kita coba ikutan panjat pinang bang? dah siap nih jadi pondasi, kalau pak ojak suruh duduk2 aja tuh tunggu hadiah
nanti dibilangnya pulak
cemana tuh?
panjat pinang emang lomba yang paling seru sekaligus menantang sob,,
emang betul tuh
udah bertahun-tahun saya ikut meryakan 17n tapi belum pernah sekalipun nonton ataupun ikut lomba panjat pinang
hehehehe
Cuma numpang lewaat..

*Kangen OL
kekmana ??, menang kw lomba blogging yg dibuat telkomsel ??
utk paragraf yg ini

“Jadi, kalau pun kita hanya jadi penonton dalam perjuangan bangsa ini meraih kemakmuran dan kesejahteraan yang lebih adil. Marilah kita beri dukungan buat mereka yang berusaha. Jangan malah mengundang segenap semesta untuk berpaling dari perjuangan tersebut.”
dalam ya nich..
kontes ya nich? btw…habis sudah cafe2 diharapan itu…tak ada yg tersisa
merdeka!!
memaknai sesuatu itu yang kadang kita lupa bro
aniwei, di kampungku – aek nauli, parapat – kemaren panjat pinang diganti pake pohon ekaliptus. soalnya ga ada lagi pinang yang mo dipanjat.
jgn lupa tuh buat panitia, abis nebang pinang atu, kudu tanam pinang dua hehehe..klo untuk acara ini jgn niru lagu ‘anak medan’ ya – …. pohon pinang tumbuh sendiri …. -
Share yang menarik bang.. :)
ehm analogi yang bagus
kayaknya sudah ketahuan siapa yg bakal menang nih…
@ekads:
masa’ sih gak pernah nonton langsung panjat pinang?
cobain deh, ntar berasa euforianya
@Remaja:
emang lagi dimana, Hel?
gak online lagi sekarang?
@rosa:
iya, sekarang kutengok sering orang cuap-cuap tak jelas, padahal yang bercuap itu pun tak ada kontribusinya..
@goldwinner:
betul kali itu bah!
jangan sibuk di proposal pinang, tapi gak ada reboisasi
@Gloria:
glad you like it..