Mesti Kali Rusuh?
Yang orang Medan, walaupun jarang nonton TV atau ngobrol di warung kopi, pasti tahu kalau ada insiden yang terjadi di kantor DPRD SUMUT. Ya, kantor tempat wakil rakyat bekerja untuk mewujudkan aspirasi rakyat, telah ternoda dengan aksi anarkis. Korban yang telah jatuh, adalah Ketua DPRD SUMUT (alm.) Abdul Azis Angkat.
Jujur, saya tidak ingat nama ini sebelumnya. Jujur, saya tidak pernah ambil pusing dengan rencana pembentukan PROTAP. Bahkan saya baru tahu kalau ini adalah kali ke-empat, rancangan pembentukan itu diajukan ke dewan wakil rakyat. Harap maklum atas “ketidakpedulian” saya akan tempat saya tinggal dan hidup. Tetapi saya cenderung mempercayakan tugas dan tanggung jawab untuk hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah, ke tangan yang berwenang (kalau kata kawan; “awak ini apalah”)
Oke saya pernah dengar beberapa isu selain urusan IT dan blog, tapi otak saya punya sistem filtrasi bawah sadar yang mengatur prioritas pekerjaan saya, walaupun tidak semua terjadwal dengan baik. Tapi khusus hari ini, saya meluangkan waktu untuk melihat liputan di televisi tentang tindak kekerasan yang terjadi di kantor DPRD-SU Kota Medan, sama halnya dengan apa yang sudah saya lakukan untuk melihat acara inagurasi Barack Obama sebagai presiden ke 44 Amerika Serikat.
Liputan yang saya tonton, benar-benar sebuah contoh nyata atas wujud kekerasan yang salah tempat. Dan lebih lagi, apa yang mereka (para pengunjuk rasa, kalau memang itu namanya) lakukan di dalam ruang rapat, yang sekonyong-konyong merekalah peserta rapat; memutuskan bahwa pembentukan propinsi Tapanuli adalah disetujui! Waktu itu saya cuma bisa bengong saja…

Ada beberapa hal yang sebenarnya berkembang di lingkungan masyarakat, yaitu praduga bahwa pemekaran ini dilambat-lambatkan oleh DPRD-SU. Menurut obrolan dari mulut ke mulut (bukankah ini metode propaganda yang sangat baik?)..
Si A: Emang kenapa rusuh kali lah demonya itu?
Si B: Bukan gitu, soalnya dari DPR-RI udah disetujui tuh rancangan pembentukan PROTAP, tapi DPRD-SU aja yang lama-lamain. Jadi palak lah mereka.
Si A: Mereka itu maksudmu siapa?
Si B: Yang demo itu lah, Lae.
Si A: Bah, yang gak percaya laginya mereka sama wakil rakyat yang mereka pilih itu? Aku aja percaya.
Si B: Kalau pun korupsi ajanya kerja mereka, ya harus ditindak lah, Lae.
Si A: Justru aku punya doa yang kuamini bahwa para wakil rakyat itu gak lagi korupsi. Bahwa mereka selalu memberikan yang terbaik buat rakyat. Dan Bapa Kami yang di Surga mengaruniakan hikmat bijaksana buat mereka. Kuaminkan itu semua!
Si B: Ya itu kan doamu, Lae.
Si A: Lagian aku juga punya kepercayaan sama orang-orang kaya’ Pak Polisi, atau orang KPK. Emang sekarang tiap orang punya hak jadi hakim ya? Gak perlu sekolah hukum, udah bisa tuduh-tuduh sembarangan dan main hakim di tempat!? Bah, seram aja Medan ini kurasa. Gak ada lagi yang dipercaya buat kerja, semua salah..
Saya pribadi bukanlah orang yang paham betul dunia politik, atau aturan hukum. Tentang persyaratan pembentukan suatu propinsi juga saya tidak begitu paham, tapi yang saya tangkap adalah:
Kalau sudah pantas, mekarkan..seperti itulah
Tapi kembali kepada kesadaran pribadi saya, kerjakan lah jatah kita masing-masing. Saya ingat pernah dikasih tugas ngepel lantai, yang saya lakukan sebaik yang saya bisa. Tak lama kemudian, pemilik lantai datang. Tidak ada dialog saat itu, tapi saat saya sedang membersihkan area yang lain, saya lihat dia mengepel kembali lantai yang sudah saya pel..

Terimakasih saya buat orang-orang yang sudah meluangkan, eh.. mendedikasikan waktu dan sumber dayanya untuk memikirkan kesejahteraan orang lain di atas kepentingan golongan atau ambisi pribadi. Tetapi kejadian seperti ini, sangat bertolak belakang dengan nilai intelegensia yang seharusnya dimiliki oleh para pemikir kesejahteraan rakyat. Jangan terjadi lagi.
Pingback: Kilas Balik Perjalanan Nichpakaich.net - Nich bukan nik atau nih
Pingback: Marah Identik dengan Bringas - Nich bukan nik atau nih