Mujizat Kalau Delay

Setelah mengikuti FGD Online Ethics Code drafting kemarin, aku kembali ke Medan pada hari Sabtu (17 September 2011). Dari awal sih memang sudah ambil tiket PP, soalnya berharap bisa ketemu dengan teman-teman yang ikutan dalam acara ON|OFF chapter Medan.

Dikarenakan ada teman yang mau nitip barang, jadi rencananya setelah check-out dari Hotel aku tinggal meluncur ke Perempatan Pancoran. Tapi rencana pun harus berubah. Si kawan nelpon dan bilang kalau dia dapat instruksi mendadak dari atasannya, dan aku diarahkan ke titik pertemuan yang berbeda. RS Hermina. DEPOK!

Dasar aku yang buta peta, diiming-imingi “tinggal lurus aja” pun aku nurut.

Dan setelah tertidur 2 kali, dan terbangun karena taksi yang kutumpangi nabrak mobil orang. Akhirnya aku tiba di rumah temanku itu.

Jam berapa pesawatnya, Nich?
Jam 4.20 take off, jawabku
Eh? Ini sudah jam 2. Perjalanan kesana makan waktu 2 jam lho. Udah, langsung jalan aja.

D’oh! Dari awal aku memang sudah wanti-wanti masalah jarak tempuh dan kondisi jalan. Aku gak mau sampai ketinggalan pesawat. Selama perjalanan, aku sempat was-was. Tapi karena jalanan padat akibat arus weekend, dan dua kali nemu perbaikan jalan di tengah tol – yang bikin macet – akhirnya aku memilih pasrah sempurna.

Si kawan pun sibuk BBM-an dengan aku, menanyakan posisi, menanyakan jalan mana yang ditempuh driver taksi, dan berbagai macam hal lainnya yang cuma kutanggapi dengan emoticon ketawa-ngakak-guling-guling. Dalam perbincangan telepon, antara aku dan dia, sempat kubilang “ya udah banyak-banyak doa supaya pesawatnya delay” dan dia berkata “mujizat kalau sampai delay

Aku memilih untuk mencoba sampai di counter check-in, dan melihat hasil dari usaha keras si bapak driver yang sudah berkali-kali melampaui batas kecepatan maksimum (ditandai dengan suara alarm yang bunyi lagi-dan-lagi). Tiba di counter, dengan sikap tak berdosa, kusodorkan itienary penerbangan yang sudah kusiapkan.

Petugas counter check-in pun berkata.
“Maaf, pak..”

“penerbangannya delay sampai 17.30”

Pengen teriak. Pengen loncat.
Tapi kupilih untuk tersenyum saja, lalu dengan ramah kubilang “Gak papa, mbak. Yang penting bisa pulang hari ini.”

Terlepas dari apakah aku percaya mujizat itu ada, atau tidak. Aku selalu berprinsip, kalau gak dicoba, ya sudah pasti gagal. Seandainya waktu di taksi – waktu masih di tol dalam kota Jakarta, waktu jam sudah menunjukkan pukul 16.02 – seandainya disitu aku memutuskan bahwa penerbanganku sudah tidak terkejar, dan aku (bilanglah) memilih putar arah dan kembali ke hotel. Betapa meruginya aku..

Barangkali dari sekian banyak penumpang Sriwijaya yang berkumpul di ruang tunggu B7 Sabtu kemarin, hanya aku yang masih bisa senyum manis ketika nungguin segelas air minum dan nasi kotak.

  • anak alay

    ea ea ea.
    kek mana x senyum manis kau itu:hihi:

  • delay membawa hikmah :sip:
    kemarin pesawat awak juga untunglah delay. perut lapar, toko roti ga mau jual gara2 kehabisan cream nya:wooo:

    pas pengumuman delay awak langsung stand by di depan counter nya :ngeres:

  • tertarik sapa prinsipnya , saya sangat setuju jika tidak di coba pasti gagal :hihi:

  • hohoho..
    anda bruntung banget :D
    hhe, pengen jga kyk anda gan!
    any way, kjadian kyk gini sring terjadi / tdk? klo sring brarti mmang anda LUCKY MAN wkwkwkwk!

  • keinginnan nya terbkabulkan ternyata ha..ha.. :sip: