Semalam aku tidur di rumah. Iya, gak tidur di kantor. Penyebabnya? Karena gak jadi maintenance ke Mich.net di Kp. Lalang (berhubung kekurangan pasukan buat angkut alat berat). Tapi alasan utama sih gara-gara koneksi Supidi yang kata operator 147-nya, PUTUS SATU KOTA MEDAN.

Jadi ceritanya aku dapat tontonan bagus tuh. Kalau gak salah, nama program acaranya, Mata Kamera. Tema yang diangkat tentang Nasionalisme, mungkin dalam rangka memperingati 63thn Kemerdekaan Indonesia yah? Ada satu kesimpulan yang aku dapat. Bahwa rasa Nasionalisme di diri rakyat kita (Indonesia) itu, sebenarnya gak pernah berkurang. Walaupun banyak contoh kasus yang menunjukkan “kekonyolan” bangsa ini:
- Orang Indonesia pada protes tentang “claim” lagu Rasa Sayange oleh negeri jiran kita – sementara yang protes itu malahan kebanyakan gak hapal lagunya.
- Walaupun orang menyatakan betapa pentingnya cintai produk dalam negeri padahal atribut yang dia pakai hanya secuil yang merupakan produk lokal.
Tapi kata-kata budayawan W.S Rendra benar-benar menyentak. Bahwa ke-nasionalisme-an seseorang tidak mutlak diukur dari hapal-tidaknya terhadap lagu daerah atau remeh-remeh yang lain. Tapi yang ditekankan adalah patriotisme; kesiapan warga negara sebagai bagian dari Indonesia untuk membela tanah air, membela bangsa, dan membela bahasa. Beliau bahkan terang-terangan menunjuk pemerintah sebagai oknum yang memiliki kesalahan dalam penjualan aset negara.
Tapi tentunya kita bisa mulai dari yang kecil-kecil juga
Mencintai produksi dalam negeri dan mengkonsumsi produk lokal tentunya mendukung perekonomian lokal juga, toh? Dengan mengkonsumsi produk import, jelas bahwa perekonomian yang mendapat sokongan dari kita (selaku konsumen) adalah mereka para produsen asing. Jangan heran kalau ada franchise yang majangin poster karyawannya dengan kata-kata “Saya Orang Indonesia” di sudut tokonya, dengan tujuan apa coba? Tak lain dan tak bukan, untuk meraih hati pelanggan tentunya, demi memunculkan pertimbangkan bahwa yang kerja disitu adalah orang Indonesia (walaupun wara-laba-nya ngumpul di luar sono).
Menteri yang ikut diajak ngobrol di program acara itu juga jelas mengatakan; pada beberapa jenis produk – Indonesia justru yang terbaik. Gak ada yang ngalahin kerajinan Indonesia, atau batik. Aku pun sependapat, sama sependapatnya dengan target pemasaran yang kerap bikin kita yang di dalam negeri suka gigit jari.
Suatu produk yang memiliki harga jual lebih tinggi di luar negeri, justru bisa mengakibatkan produk tersebtu langka di dalam negeri.
(senada kan kalau produk=minyak)
Itu baru dari dunia kuliner, sekarang dari dunia fashion. Coba deh sekarang telusuri busana yang anda pakai, dari atas sampai bawah (sahat tu bagas-bagas) .. berapa persentase produk lokal? Aku jujur aja gak 100% produk lokal yang aku pakai. Ini terkait kebiasaanku yang jarang nambah koleksi baju (seringnya juga nampung dari kiri-kanan). Tapi kalau pun ada duit buat beli baju, aku pasti beli batik (secara belum punya, coy). Terus kalau sepatu, Mas Said! Masih ingat kan pesanan saya? Kalau tas, sorry .. aku gak ikutan di kelompok yang sering baca-baca katalog dengan kode KW1-KW2.
Maju Indonesia, maju masyarakatnya!
Komentar
6 Komentar to “Nasionalisme itu Tetap”Ping-balik
Apa pendapat yang lain tentang tulisan ini..-
[...] aku tak menilai nasionalisme dari kehadiran di dalam barisan upacara setiap hari Senin (atau hari besar Nasional). Aku juga [...]
























menurutku seh Nasionalisme itu tetap ada, namun Mati Suri
Setidaknya kalo 1 orang sudah
dasarsadar, ya bagus lah … masih perlu berjuta2 lagi yg disadarin. :)moga semua lekas sadar yah..
Thum Band bro… Ada apa dengan dirimu? Semangat 17an masih terasa ya…
Makin keren aja kuliat kau nulis bah. Sejak ngereview Portal Lowongan Kerja kemaren makin enak awak membaca tulisan-tulisanmu. Enak banget alurnya dan bahasanya “agak tinggi” tapi mudah dipahami. Mantap bro… Ketularan ketua kita ya…
*aku anggap pujian deh*
Coba dosen pembimbing TA ku dulu baca komentarmu ini, bisa berurai air mata dia