Sebenarnya aku kurang begitu klop dengan yang namanya pangkas rambut. Tapi itu bukan alasan kenapa rambutku jadi seperti sekarang. Memang pada dasarnya ke tukang pangkas selalu jadi pekerjaan yang paling merepotkan buatku. Kenapa?
Karena setiap kali aku mau pangkas, sepanjang perjalanan aku harus direpotkan dengan proses berpikir keras, memilih model yang harus aku utarakan (ketika nantinya ditanya sama tukang pangkas-nya). Tetapi ketika sudah duduk di kursi operasi, dan sudah mulai dikalungkan dengan kain putih-nya itu, aku akan terdiam… dan lebih parah, ketika ditanya
“mau dibikin gimana nih?”
Pertanyaan itu gak pernah bisa kujawab dengan baik, apa pun jawabanku pasti hasilnya jauh dari ekspektasi ku atas model yang ku mau. Beberapa kali salah nyebut, hasilnya lain; di lain kesempatan emang tukang pangkasnya yang gak bisa… Belajar dari pengalaman bertahun-tahun, jawaban yang paling “aman” hanyalah
“pendekin aja bang“, atau
“pangkas 1 sisir aja bang“.
Entah kenapa, pertanyaan ini selalu jadi masalah. Gak itu barber-shop, atau hair-stylist sekalipun. Hasilnya gak pernah memuaskan. Darimana tolak ukurnya? Yang pasti bukan cuma menurut mataku saja, orang-orang yang ngelihat aku dengan model rambut keluaran tukang pangkas komersil pun kerap berujar;
“Masih idup tukang pangkasnya?”
atau yang lebih halus lagi,
“Dimana kau pangkas? Biar jangan kesitu aku“

Jadilah aku ogah ke tukang pangkas..
Tapi kemarin dengar statement dengan nada baru dari beberapa pengunjung warnet yang kasak-kusuk ngomongin aku ketika aku melintasi mereka
“udah mati tukang pangkas sekarang ini”

Tidak ada posting terkait
























Pingback: Kilas Balik Perjalanan Nichpakaich.net - Nich bukan nik atau nih