Pemadaman Listrik di Medan: PLN Ngambek atau Dipersulit?

Sudah berhari-hari niat untuk menuangkan ganjalan di hati, tentang pemadaman listrik di Medan ini, tertunda oleh banyak hal.

Salah satunya, kesibukan sebagai ayah-baru, yang harus berusaha mengimbangi istri merawat buah hati kami.

Anakku, sepertinya cuma punya satu cara berkomunikasi, yaitu nangis.
Termasuk ketika menyatakan dia lapar (mau minum susu), pakai nangis. Walau nangis yang model satu ini, lebih menyayat hati.
Kalau sudah keburu nangis karena lapar, giliran dikasih susu pun, masih ‘ngomel’

Tentunya aku tak mau anakku harus nangis. Apalagi nangis berkepanjangan.
Sebelum stok susu habis, aku sudah harus beli susu baru.
Setengah jam sebelum dia lapar, aku sudah harus bangun dan mempersiapkan susu hangat.

Tak perlu menunggu dia menangis, baru bikin susu hangat, apalagi kalau harus nunggu dia nangis dulu baru pergi beli susu.

Yang kutulis di atas, sepertinya merangkum segala keluh-kesahku ke PLN. Gak jauh beda, kurasa. Hanya saja, kami ini rakyat, gak minta susu kepada PLN. Kami minta profesionalitas, layanan yang berkualitas, dan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

KiniCo-Lampu-Jalan-Ikut-Padam1

Lampu jalan pun padam

 

Pemadaman Listrik yang Tidak Terjadwal

Di bulan Juni, ketika frekuensi pemadaman listrik mulai naik ke taraf ‘meresahkan’, aku sudah mulai ngoceh tentang butuhnya jadwal pemadaman yang jelas.

Sayangnya, baru di bulan September PLN Sumut merilis halaman resmi tentang Info Pemadaman. Dan itu pun disajikan dalam format data gambar (contoh image: daftar defisit 20 Sept 2013). Silahkan dibuka, dan bilang dulu, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menemukan; kapan daerah mana menjalani pemadaman berapa lama dan berapa kali dalam sehari?

Pemadaman Listrik yang Terasa Tidak Adil

Sebenarnya ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa ada saja daerah-daerah yang mendapat perlakuan khusus, dan bakalan jarang kena giliran pemadaman listrik. Oh, aku bukan memaksakan bahwa rumah sakit juga harus dipadamkan. Enggak se-‘adil’ itu lah. Aku yakin betul, dan paham, jika ada proyek vital yang harus diprioritaskan haknya untuk mendapat aliran listrik. Tapi, sepertinya karena tidak adanya transparansi jadwal yang jelas, maka praduga pun beredar di masyarakat.

Dan, kupikir, barangkali karena masyarakat tidak merasa diperlakukan secara adil oleh PLN, dan pemadaman dirasakan terlampau ‘semena-mena’ maka mencuatlah aksi perusakan kantor PLN di Binjai dan Lubukpakam kemarin itu.

Pemadaman Listrik yang Tidak Sesuai Janji

Sesudah reaksi keras dari masyarakat terlihat, Direktur Utama PLN, Nur Pamudji lalu berjanji, mulai Jumat 20 September 2013, PLN akan mengurangi frekuensi padam. Dalam sehari, listrik pelanggan hanya padam 3 jam. Hari kemarin (Jumat yang sama), kami sekeluarga sudah menjalani 2 x 3 jam pemadaman listrik.

Hari pertama, dan #PLN sudah gagal. Padahal aku sudah sempat senang, karena berangkat ke kantor dengan hati tenang. Berhubung pagi tadi kediaman kami sudah dapat jatah pemadaman bergilir, dan tadinya aku pikir tidak akan kena pemadaman lagi. Ada yang salah.

Pepatah lama mengatakan, “manusia itu yang dipegang omongannya” — sepertinya sekarang kita uji saja hukum yang berlaku di negara kita. Akankah PLN memberikan pengurangan tagihan listrik nantinya

keppres-ri-nomor-104-tahun-2003

Keppres RI Nomor 104 Tahun 2003 Pasal 3

Pemadaman Listrik yang Tidak Perlu Terjadi

Kembali ke penuturanku tentang susu anakku di bagian awal tulisan ini. Strategi paling sederhana yang kupersiapkan adalah: atur timing agar susu selalu tersedia ketika anakku lapar.

Entah kenapa, aku tidak merasakan kalau PLN mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik menjelang pemeliharan dua pembangkit, PLTU Labuhan Angin dan PLTGU Belawan.

Seorang adik kelasku (yang bertepatan bekerja di PLN) sempat menuturkan bahwa sebenarnya PLN sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri, “PLN menargetkan beberapa pembangkit akan berjalan sebelum pemeliharaan” ujarnya.

Kenyataannya; “gak terkejar” (baca: gak keburu) pembangkit-pembangkit itu untuk beroperasi, sementara pemeliharaan sudah harus berjalan. Ini aku coba-coba bikin daftarnya bermodal tanya ke om Gugel:

  • PLTU Pangkalan Susu berkapasitas 2 x 200 MW di Kabupaten Langkat, belum selesai
  • PLTU Nagan Raya berkapasitas 1 x 110 MW di Aceh, masih ujicoba
  • PLTA Asahan-3 berkapasitas 2 x 87 MW di Tobasa, terhenti pada Maret 2012 dan sampai Agustus kemarin belum jalan
  • PLTP Sarulla berkapasitas 3 x 110 MW di Silangkitang  dan Namora, sudah bertahun-tahun, baru mau dimulai
  • Belum lagi PLTMH banyak yang belum jalan.

Dari penuturan adik kelasku, aku tahu bahwa untuk membangun pembangkit listrik baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Masalah perizinan, pembebasan dan pengadaan tanah serta birokrasi di jajaran pemerintahan sendiri, sering kali menjadi kendala. Entah lah ya, gak ngerti aku lobby tingkat dewa ini. Yang kutahu, kalau emang berjuang, siapa pun pasti bisa. Seperti berita ini “Satpam Kalahkan Negara di MK“.

Tapi, heranku, jika memang gak terkejar, kenapa musti nunggu masyarakat merasakan derita pemadaman bergilir baru PLN SUMUT ambil langkah sewa genset?  Kalau toh sudah diperhitungkan timing antara penyelesaian pembangkit baru dan pemeliharaan pembangkit yang sedang berjalan tidak tepat, kenapa inisiatif sewa genset tidak dilakukan dalam kurun waktu yang lebih awal?

Seandainya saja, keputusan non-strategis (menyewa genset) ini sudah ketok-palu sejak 6 bulan lalu, maka ketika pemeliharaan harus dijalankan, genset sewaan sudah siap memasok daya untuk masyarakat. Bukan begitu?

Apa PLN ngambek sama pemprov karena banyak proyeknya yang tersendat urusan birokrasi? Apa memang apa-apa musti nunggu Dahlan Iskan yang ngasih arahan? Apa memang ada yang mempersulit PLN? Entah lah ya, gak nyampe kali-kaliku kesana. Logikaku sederhana, anakku itu tahunya kalau lapar ya nangis. Dan aku, gak perduli dengan urusan metabolismenya, gak ngasih alasan kantong lagi seret, pokoknya harus siapkan susu pada waktu yang tepat, kalau tidak ya harus nambah usaha untuk menenangkan tangisannya.

  • Garuda Deli

    Bg. Nick, Alasan-alasan yg di lontarkan oleh petinggi pln itu sebenarnya sdh klasik, itu ke itu aja… bosan kita dengarnya. Kalo boleh saya berburuk sangka, pln sengaja buat kita orang-orang Medan dan sekitarnya mancing utk meniru Serdang Bedagai dan Binjai. Sudah itu terjadilah kekacauan untuk mengalihkan perhatian kasus di pln. Yg lima orang diperiksa itu kan hanya sebahagian kecil aja, masih ada lagi kelas kakap yg belum terungkap……..

    • Tulisanku ini sebenarnya tidak menanyakan lagi “koq asik mati pemadaman listrik aja kota Medan ini” — ini bukan salah tukang saklar di P3B, bukan salah operator di ujung telepon 123 atau di balik @pln_123

      Bukan, bukan itu.

      Itu lah kenapa aku daftarkan di atas 5 pembangkit potensial yang tidak terselesaikan persiapannya. Udah runyam ini urusannya. Gak tahu udah sejauh mana ‘jaringnya’ tetapi bukan gara-gara PLN doang makanya kita sampai begini.

      Yang aku tekankan itu; kalau toh sekarang PLN mengambil langkah sewa genset, kenapa gak dari dulu aja dieksekusi?
      (Gak usah ditanya kenapa musti sewa genset lagi lah, masih pada buang badan)

  • iya sih, bosen pun awak nanya alesan kenapa mati lampu ke mamak awak yang kerja di PLN…. klise bang.

    • Aku termasuk yang kecewa dengan pelayanan PLN, tetapi juga bisa memahami bahwa tidak semua yang bekerja di PLN punya peranan dalam hal “mengakibatkan hal ini sampai terjadi” De.

      • iya lah bang, ada sebagian oknum oknum yang membuat masalah menjadi seperti ini.

  • takien

    PLN Medan akan tetap melakukan pemadaman sampai batas waktu yang tidak jelas.
    Soal sewa genset katanya masih proses tender, dan yang disewa itu cuma 150MW,
    sementara kebutuhan listrik sumut itu kekurangannya adalah 400MW.

    • Dan sekarang, setelah semakin molor lagi tuh, yang seharusnya bisa pulih di bulan November, 2 hari lalu dinyatakan bahwa krisis baru akan teratasi di bulan Desember (_ _”)

      Etapi ini boleh dibaca, lah: http://www.pln.co.id/?p=9034

  • Dany Subianto

    Kebetulan saya pernah nonton acara luar, dari salah satu penyedia jasa televisi berlangganan (Tv satelit). Kira kira ceritanya seperti ini – Tentang beberapa hal atau kejadian yang bisa di kategorikan sebagai kiamat Dunia. Menurut para ahli, Kejadian Yang paling mungkin dan paling sangat mendekati akan terjadi, dan memang sudah pernah terjadi di tahu 1800-an, atau kejadian yang paling di takuti dan berada di posisi paling TOP adalah apabila ketika ada ledakan di matahari yang radiasinya sampai ke bumi, walaupun radiasi tersebut tidak sampai membahayakan tubuh manusia, atau bahkan tidak terasa bagi tubuh kita, tapi asalkan radiasi tadi bisa mengganggu sistem kelistrikan di dunia, maka akan terjadi bencana berantai (sambung menyambung), yang akhirnya kiamat.
    Mereka (para ilmuwan) mengatakan bahwa di zaman sekarang ini, masyarakat kota dan bahkan masyarakat perkampungan sekalipun, tidak ada yang pernah belajar, bagaimana caranya hidup tanpa listrik. Yang tahu caranya hanyalah kakek buyut kita, tapi kita tidak. Tolong sadari itu.

    • Halo Mas Dany Subianto,

      Saya kebetulan pernah nonton serial “Revolution” di salah satu kanal TV berlangganan (Fox). Kurang-lebih sama kondisinya, dunia tanpa listrik, dan orang-orang harus bertahan hidup menggunakan cara-cara yang dipergunakan oleh nenek moyang jaman dahulu kala.

      Tapi perbedaannya, yang Mas Dany sebutkan adalah sebuah force-majeur, yang boleh dikatakan diluar kuasa dan kontrol manusia. Tapi yang dikisahkan pada serial Revolution tadi, bukan karena fenomena luar angkasa, tetapi hasil karya teknologi manusia.

      Dan yang kami alami (saya gak tahu Mas Dany ngerasakan pemadaman bergilir juga atau tidak), adalah akibat tangan manusia. Entah itu ada yang kerjanya gak sesuai prosedur di instansi penyedia listrik kita, atau ada yang sabotase, atau ada yang korupsi, entah lah.

      Saya takut salah sangka dengan komentar Mas Dany, tapi apakah maksud Mas Dany bahwa saya harus ngurangi keluhan ke PLN, dan harus belajar hidup tanpa listrik? Jika memang demikian, saya harus tolak pendapat Mas Dany. Karena yang kami alami tidak termasuk force-majeur, dan PLN harus benahi sistemnya.

      • Dany Subianto

        Saya benar benar mendukung tentang semua keluhan orang orang kepada PLN, kalau bisa di perbanyak lagi. Maksud saya mengatakan itu adalah, saya heran dengan para petinggi di pemerintahan yang kurang begitu bertindak atas permasalahan ini, dan mereka bahkan cenderung hanya mencoba menahan kemarahan warga dengan mengatakan “kalau demo, jangan bertindak anarkis”, seperti yang di katakan pak GUBSU kepada masyarakat Binjai dan Lubuk Pakam terkait demo anarkis yang mereka lakukan tempo hari. Padahal kejadian seperti itu sangat mungkin terjadi dan sangat mudah di prediksi bahwa itu akan terjadi, dan wajar bila warga panik dan stres. Karena listrik di zaman sekarang ini sudah bisa di masukkan ke dalam kategori kebutuhan Primer, bukan lagi kebutuhan sekunder.

        Dan satu lagi pak,Hotang, PT. PLN sebagai sebuah perusahaan negara, apa mereka tidak menyadari bahwa terdapat perbedaan yang SUPER BESAR, antara – adanya jadwal pemutusan listrik bergilir dengan tidak adanya jadwal pemutusan. Apabila ada jadwal yang tepat (hari-jam-menit dan detiknya) kapan waktunya di lakukan pemutusan di sebuah wilayah dan jadwal itu benar benar di tepati oleh PLN, hal ini bisa mengurangi dampak kerugian dan penderitaan masyarakat mencapai lebih dari 80 persen loh pak, coba bayangkan itu. Tidak akan ada lagi istilah “nasi masak setengah matang di ricecooker”, anak nggak punya alasan nggak ngerjain PR di rumah, susu formula bayi di kulkas nggak lagi basi, dan lain sebagainya, karena keadaan atau tindakan bisa di sesuaikan dengan waktu pemutusan. Banyak orang orang yang katakanlah kritikus seperti kita kita ini, yang beranggapan bahwa masalahnya hanyalah tentang ketidak adaan listrik, padahal masalah ketidak adaannya jadwal pemutusan tersebut justru adalah satu yang TERBESAR. Dan itu yang paling sangat membuat menderita. Bagi yang membaca ini coba deh di renungkan sebentar.

        Banyak loh pak hotang…!! Orang yang beranggapan bahwa kata kata “pemutusan listrik yang semena mena” yang banyak di tulis di berbagai media sebagai head linenya, di anggap hanya sebagai kata kata kemarahan/kekecewaan, atau kata kata yang memperbesar masalah atau kata kata yang mendiskriminasi pihak tertentu dengan tujuan agar koran/websitenya “laku”. Padahal benar itulah apa adanya. Pihak PLN memang telah melakukan tindakan brutal dan semena mena. Karena ingat!! Ini adalah sebuah perusahaan negara yang besar, bukan Home Industri yang lemah management.

        Sekali lagi INGAT!!! Aliran Listrik ke rumah kita itu – Di_putuskan_kan, bukan Ter_putus_kan oleh bencana alam seperti di samber gledek atau gempa bumi atau yang lain sebagainya, yang datangnya tiba tiba nggak di sangka sangka, sehingga nggak mungkin di buat jadwalnya.

  • Primalia H.

    Di Medan sering juga ya pemadaman lampu + air.. sama aja kayak di Toraja, kalau listrik nggak lama sih, tapi kalau air waduh, sampai harus beli air satu tangki biar restonya bisa jalan.. susahnya dobel kalau mau usaha tapi listrik + air tidak stabil >.< btw Elmo nggak ngerti Disqus itu apa yaa… (kudet :D)