Siang tadi aku baru nyadar, kalau ternyata jalanan (yang aku lalui) udah bersih dari atribut parpol/caleg. Pikir-pikir lagi, wiw.. lusa udah PEMILU. Memang masih untuk putaran CALEG dulu ding, lain lagi yang untuk Presiden.
Ternyata ada juga hari-hari tenang yah. Hari tenang? Ya iyalah.. kalau mau dibilang minggu tenang, sebenarnya gak penuh seminggu-takwim kota Medan jadi “bersih” – cuma beberapa hari saja. Di jalanan tadi, cuma satu bendera aja yang masih berkibar. Mungkin Satpol PP nggak nyadar kalau itu atribut partai, soalnya udah lusuh diterpa angin didera panas (kucel abis tuh bendera)

Satu-satunya isi kepalaku yang terkait dengan PEMILU adalah:
Koq Kartu Pemilih (ku) blum dibagikan yah?
Aku sengaja pulang ke rumah, karena aku tahu pasti bahwa aku gak terdaftar di TPS seputaran basecamp-ku, disini kan statusku adalah penghuni gelap (maklum, hidupnya cuma pas malam hari). Tapi di lingkungan rumah ortu, beritanya juga, belum ada pembagian kartu pemilih. Ya sudah sabar aja lah. Manatahu semua tim pekerja lagi sibuk. Aku ngerti lah yang namanya orang sibuk kerja
(buat kawan di luar sana; sorry blum ada yang kelar nih kerjaan).
Ambil Bagian dalam Pemilu 2009
Alasan sebenarnya kenapa aku ngurusin kali masalah kartu pemilih ini, ya jelas karena aku mau ikut milih dalam pemilu kali ini. Masa’ buat assesoris dompet doang, assesoris dompet itu maunya duit berlembar-lembar, atau kartu kredit, bukan kartu pemilih.
Emang masih percaya sama caleg, Nich?
Jangankan percaya, kenal pun tidak

Jujur, belum pernah aku salaman atau ngobrol sambil duduk minum teh sama caleg. Sebelahan meja sih pernah, waktu di Kedai Chocolate dulu. Tapi itu gak kenalan namanya (dan gak bisa dibanggakan, walaupun tuh caleg promo di salah satu blog yang aku kelola). Beberapa kesempatan semi-perkenalan lainnya adalah; SMS yang masuk ke nomor pribadiku, salah satu pengirimnya pun caleg yang promo blog yang aku kelola tadi (wuehehehe). Trus satu lagi yang formil, surat. Iya, surat cetak, pakai amplop pakai prangko yang dikirim ke alamat rumah, ck..ck..ck.. niat banget nih para caleg (sayang tuh amplop udah kebuka waktu sampai ke tanganku, kaya’nya ada duitnya.. *kaleee*)
Tapi terkait pelaksanaan PEMILU, aku orang yang gak percaya sama pernyataan bahwa Golput adalah sebuah solusi, golput memang pilihan, tapi menurutku itu gak asik.
(betewe, golput disini yang artinya waktu hari H, lebih memilih ngelonin guling di kamar masing-masing yah)
Banyak argumen tentang “kejelekan” politik, dan itu tak kupungkiri. Belajar dari kisah Julius Caesar (hey, Demokrasi dari Yunani kan?). Yang namanya politik emang berlandaskan kepentingan rakyat, tapi sebenarnya.. “rakyat yang mana?” Yah, silahkan cari sendiri lah, aku gak mau ngurusin itu (masih banyak kerjaan lain yang lebih penting).
Trus, kalau aku gak kenal caleg, dan paham konsekuensi permainan politik, koq masih mau milih? Huehehehe, itu ada ceritanya. Yang pasti aku gak golput, dan gak terlibat money-politics

Mau ngasih petunjuk rada susah juga, bukankah PEMILU itu LUBER (Langsung-Umum-Bebas-Rahasia). Sama dilematisnya dengan menghadiri kegiatan Kampanye Parpol/Caleg. Secara tidak langsung menyatakan keberpihakan ke penyelenggara acara dangdutan akbar tersebut, berarti gak rahasia lagi dong? Trus kalau ternyata di dalam bilik pemilihan nyontreng yang lain, berarti simpatisan-matre dong..























dan memang minggu tenang itu berjalan di kota medan
Pemilu telah lewat. Namun hingar bingarnya masih terasa. Itu karena masih ada proses penghitungan suara. Dan proses inilah yg paling ditunggu oleh para CALEG. Ada caleg yg bakal sukses dan duduk di kursi “dewan” nmun ada pula caleg yg hrs kecewa krn tidak berhasil lolos. Meski KPU melakukan byk kesalahan dgn tertukarnya kartu pemilih, namun secara garis besar pemilu kali ini berjalan relatif aman dan terkendali.