Kasus Tanda Tangan

Tahu film atau pernah nonton serial Highlander, gak? Anak-anak 90-an pasti tahu lah ya. Kisah tentang manusia abadi, dengan kutipan terkenalnya “There can be only one!

Pada salah satu episode (ini dari serialnya, bukan film) yang aku ingat pernah aku tonton. Duncan McLeod (sang Highlander) sedang berusaha melacak sosok manusia abadi lainnya (yang sedang berusaha membuat hidupnya lebih sulit). Sosok jahat itu menjebak seorang dokter — dengan cara mengeluarkan instruksi medis, berisi perintah pemberian penicillin kepada salah satu pasien dokter tersebut, yang nyatanya alergi terhadap penicillin. Alhasil sang pasien pun meninggal dunia. Dan si dokter berada dalam posisi sulit.

Singkat cerita, Duncan McLeod hadir sebagai pahlawan — berusaha menyelamatkan sang dokter dari sanksi yang bakal dihadapinya. Bermodalkan firasat dan pengalamannya, dia bawa sang dokter menghadap penanggung jawab rumah sakit tersebut — yang sedang mempersiapkan sanksi bagi sang dokter. Di hadapan sang penanggung jawab rumah sakit, Duncan menyuruh sang dokter menuliskan tanda tangannya di atas secarik kertas. Sampai tiga kali.

Bapak penanggung jawab rumah sakit itu bingung. Lalu Duncan McLeod meminta agar sang penanggung jawab rumah sakit melihat 3 tanda tangan yang dibuat oleh sang dokter.

“Apa maksud dari semua ini?”

“Lihat lah, tidak ada satupun tanda tangannya yang sama”

“Lalu?”

“Tidak ada yang bisa membuat tanda tangan yang benar-benar sama, kecuali mesin atau pemalsu tanda tangan. Sekarang lihat instruksi medis ini (melampirkan 2 lembar formulir medis)”

“Ini benar-benar identik..”

Adegan di atas, benar-benar terekam di kepalaku. Tidak sampai tingkat memori-fotografik, memang. Tapi aku ingat pernyataan Duncan tersebut; bahwa tanda tangan tidak pernah sama.

Tanda Tangan Tak Sama, BCA Tak Terima

Sejujurnya, kesal adalah rasa yang kurasa ketika hari Senin kemarin aku harus repot-repot menjalani rute ke dua bank BCA, untuk mengurus tabunganku — dan urusannya tidak bisa berjalan mulus karena tanda tanganku tidak sama dengan yang tertera di buku tabungan atau di e-KTP.

Awal perkara adalah ketika aku hendak melakukan pembayaran di sebuah outlet Indomaret di dekat rumah ku. Entah kenapa, mesin EDC-nya menolak PIN yang kumasukkan. Hingga tiga kali. Karena belanjaan juga sudah dihitung, dan harus dibayar, aku minta istriku untuk membayarnya dengan menggunakan kartu debet miliknya. Dan, tidak bisa juga! Akhirnya aku minta kasirnya untuk sabar dan menungguku mengambil uang tunai dari ATM di dekat situ.

Ketika mencoba menarik uang tunai dari anjungan tunai mandiri, muncul pesan di layar yang menyatakan bahwa aku sudah pernah salah memasukkan PIN sebanyak tiga kali, dan oleh karena itu maka kartu ATM BCA ku diblokir. Pesan selanjutnya menyarankan aku untuk melaporkan hal tersebut ke kantor BCA terdekat. Berhubung waktu itu sudah malam (Minggu, 12 Mei 2013) aku putuskan untuk melapor esok paginya. Dan mengenai belanjaan kami, syukur berkat saldo di tabungan sang istri, akhirnya bisa kami bayarkan tanpa kurang satu apa pun.

Kembali ke permasalahan tanda tangan; aku benar-benar kesal, karena proses otorisasi yang terjadi tidak manusiawi. Bukan, bukannya aku diperlakukan seperti binatang, bukan. Maksudku, kenapa dengan kehadiran ku, dengan foto ku yang tertera di e-KTP, dan kesamaan nama di buku tabungan dan e-KTP, tetap saja permasalahan tanda tangan yang tidak sama itu tidak bisa ditolerir.

Aku mengeluhkan hal itu kepada istriku, dan kukatakan

Kalau toh cuma buat memeriksa tanda tangan, gak perlu CSO, cukup satu unit komputer saja yang kerja disitu, ngescan tanda tangan..

bca-atm-tanda-tangan

Di meja CSO BCA

Sayang, kehadiran manusia-manusia yang di hadapanku, seakan tidak bisa mengambil langkah atau tindakan yang mempermudah segala proses ini.

Barangkali mereka pun hanya menjalankan prosedur yah? Entah lah.

Tapi setelah sekian lembar kertas dan sekian menit waktu untuk melatih tangan ini, akhirnya tanda tanganku diterima. Dan urusanku pun selesai.

Barangkali ke depannya, e-KTP yang digembar-gemborkan pemerintah sebagai sarana identifikasi warga negara dengan teknologi canggih ini bisa digunakan untuk mengantisipasi pengalaman ku tadi. Barangkali, besok-besok selain gesek kartu ATM (sebagaimana prosedur yang lazim dilakukan di CSO sebuah bank) kita juga cukup gesek e-KTP untuk proses verifikasi identitas. Dan CSO, atau pihak yang memverifikasi, mengandalkan pemeriksaan visual juga. Percuma di KTP ada foto, kan yah?


PS:
Kalau pun sedemikian ketatnya BCA dengan prosedur, kenapa di depan nasabah, antar CSO berkomunikasi tidak pakai bahasa Indonesia? Atau, tidak ada SOP untuk urusan ngomong yah? Jadi ingat postingan si Din yang ini.

  • Dinneno

    Pengalaman ini pernah jua kualami waktu ngambil uang di Bank BRI. Sama persis, permasalahannya karena tanda tangan yang gak sama persis di buku tabungan. Padahal lekuk garis tanda tangan di buku tabungan dengan kertas penarikan bisa dibilang 95% sama.

  • ArieL FX

    santai koq bang, cs juga ngerti klo customer ada yg gak “pandai tanda tangan”

    termasuk awak nih ah.. :D

    • nichpakaich

      Sayangnya, CS emang ngerti tapi sistem tak mau ngerti.
      Itu yang jadi masalah :p