Tayang Pilih

Selama tujuh hari pelaksanaan puasa pekan pertama Ramadhan, sejumlah stasiun televisi menyiarkan program kuliner. Karena saya mengimbau agar adegan makan dan minum dihindarkan, apalagi penayangan lebih banyak di siang hari

Itu sejumput kutipan protes dari anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Iswandi Syahputra. Kita jangan serang institusinya yah, juga jangan serang orangnya. Karena si bapak punya statement yang juga bagus

Ya ini sudah waktunya stasiun televisi untuk ‘tobat’ dari segala tayangan yang tidak mendidik

censoredSebenarnya, yang mau aku pertanyakan adalah apakah kita memang masih perlu televisi sebagai media informasi? Atau TV sebenarnya hanyalah bentuk akhir dari sebuah layanan jasa yang berusaha untuk menjamin bahwa apa yang disiarkan adalah “baik” untuk semua orang, “pantas” untuk semua umur, dan mendukung kesejahteraan hidup orang banyak?

Semalam aku ngoceh di twitter prihal sensor yang kerap memotong bagian-bagian penting dalam sebuah film. Saya perlu tekankan, saya bukan protes atas sensor adegan ciuman yah. Justru yang saya protes itu adalah sensor pada bagian finishing-blow. Bagian dimana anakmudanya sukses menghabisi riwayat si bedebah yang membunuh keluarganya pada bagian awal film.

Saya mempertanyakan alasan sensor pada film yang tayang tengah malam, apakah karena berusaha melindungi anak-anak dari tontonan yang tidak sesuai umurnya? Atau sebenarnya tidak ada keadilan yang jelas, seperti halnya aturan penayangan iklan rokok yang hanya boleh disiarkan pada pukul 21.30-05.00

Lama kelamaan sepertinya hasil akhir yang kutonton secara gratis di televisi swasta nasional benar-benar sebuah produk yang sarat dengan muatan kepentingan, atau penanaman nilai oleh sekelompok golongan, atau entah lah, berasa gak-benar aja.

Yah, semoga pak Iswandi Syahputra dan teman-teman di KPI sukses dengan statement kedua tadi.

(Sumber gambar: muslimdaily.net)

  • Saya jadi pengen tipi berbayar Telkom ya… Hanya bayar yang ditonton. :sip: