Teman yang Jauh
Baru-baru ini aku kedatangan dua tamu; yang satu kawan lama dari Aceh dulu (Andhy “Dumontez” Yudha) dan yang satu lagi adek-nemu-gede dari Batam (Andrew Prasatya). Perlu diketahui juga kalau dua minggu belakangan aku terlepas dari bioritmik yang kacau.
Tapi kedua hal tersebut, walaupun menambah ruwetnya jadwal kegiatanku (karena ada proyek setup warnet), tapi justru saling melengkapi. Coba bayangkan kalau tamu-tamu itu datang ke Medan ketika aku masih tertahan dalam pola “team Kalong” ..

Gak usah diceritakan lagi, tapi pertemuan dengan teman lama pastilah menyenangkan. Nah, ada yang ingin kupaparkan terkait kualitas sebuah pertemanan.
Ada kata-kata seperti ini;
.. jika dapat teman baru, teman lama jangan dilupakan ..
Lupa memang tidak, tapi intensitas pertemuan dan cara berinteraksi pasti berubah, setuju? Kalau dulu makan bareng, berenang bareng, atau tidur bareng.. tapi kalau sudah terpisah jarak, pasti gak bisa bareng-bareng lagi, kan?

Yah, kalau sekedar bertukar kabar sih memang gak sulit (apalagi mahal) buat takaran anak jaman sekarang. Banyak koq sarana interaksi sosial yang murah meriah seperti twitter, facebook, Y!M, bahkan blog. Belum lagi dengan persaingan tariff operator seluler yang sadis belakangan ini, seharusnya gak sulit buat update informasi. Tapi ya kembali lagi, itu semua hanya menerapkan konsep “lihat boleh, pegang jangan” .. yang penting saling cukup-tahu saja.
Jadi buat kamu-kamu yang terpisah (oleh jarak dan kesempatan) dengan teman kamu, lanjutkan saja hidupmu. Karena ketimbang menghabiskan perhatian buat orang yang jauh, tidakkah lebih baik kalau kamu membuat kehadiranmu menjadi berarti di tengah-tengah teman yang ada sekarang (lihat ke mari dong).
make the MOST of all that comes & the LEAST of all that goes!
- Sara Teasdale
