Ya, kami menikah

Akhirnya, 15 Nopember 2012 yang lalu, aku dan Yuni resmi memulai bahtera rumah tangga kami yang baru. Sebagai sepasang suami-istri, yang sudah disahkan di hadapan Tuhan dan jemaat, juga sudah disahkan secara adat. Tinggal nunggu akta pernikahan yang dari catatan sipil nih
:hehe:

Repotnya mempersiapkan acara pernikahan kami, emang bikin kelimpungan. Walau aku ngerasa ini jauh lebih matang persiapannya ketimbang pernikahan sodara-sodaraku yang pernah aku ikuti. Tapi syukurlah, di H-1 aku udah bisa menyelesaikan sebagian besar checklist persiapan pernikahan kami, tinggal yang kecil-kecil saja yang dicari dan dipersiapkan.

Pada hari H, puji Tuhan, berkat doa teman-teman juga, acaranya berjalan lancar. Bahkan cuaca hari itu gak panas, gak hujan – padahal kami sempat was-was karena Medan sedang musim hujan tuh.

Pernikahan Nich dan Yuni

Seperti tipikal pernikahan adat Batak, capek memang. Tapi jujur, bagiku gak secapek yang kubayangkan. Kering-kering-dah gigi ini, senyum terus ke tamu-tamu, pertanda bahagia. Barangkali perasaan bahagia itu menjadi katalis bagi vitamin yang disuntikkan pada malam sebelumnya.

Saking bahagianya, kaya’nya tenaga tetap bertahan di dalam tubuh, sampai hari-hari berikutnya.

Ya, sehari sesudah pernikahan kami, kami melanjutkan perjalanan keluar kota. Itung-itung bulan madu. Berhubung banyak anggota keluarga besar Yuni yang belum pernah pulang kampung, jadi lah kami kami road trip Medan-Pematangsiantar-Tarutung-Parapat-Pematangsiantar-Medan
:hihi:

Tapi setelah usai, dan keluarga Yuni sudah kembali ke Jakarta. Mulai kondisi badan ini menurun.

Tak lama, selang 2 minggu sejak pernikahan, Bapakku demam (gejala DBD) disusul dengan aku (yang sukurnya gak sampai kena DBD). Nyaris seminggu juga anakmudanya lemah, harus istirahat di tempat tidur.

Tapi sekarang semua sudah kembali ke pola dan bioritmik semula. Saatnya menuntaskan pekerjaan yang menumpuk, dan kembali menyapa dunia.