Bagikan karena Kau Senang ‘kan?

Pagi tadi ada pemandangan yang tak lazim di lapangan sekolah.

strap-cabut-massal

Jalan Jongkok

Segitu banyak siswa yang teridentifikasi positif melakukan cabut-massal pada siang kemarin
:hmmm:

Tapi jangan langsung ambil kesimpulan bahwa postingan ini adalah tentang kejadian luar biasa di sebuah sekolah. Yang terlihat pada gambar itu hanyalah satu akibat dari prilaku manusia yang saya, dia, dia, kamu juga (mungkin) punya.

Sebentar, saya cerita kan dulu satu detil yang penting, terkait kejadian cabut-massal yang tadi kusebutkan.

Dari sekian murid yang ditanyai pagi tadi, hampir semua peserta cabut-massal memiliki kalimat ini dalam pernyataannya

kata si anu, pulang cepat

Dan berhubung jumlahnya terlalu banyak untuk ditelusuri satu per satu, jadilah strap massal diberlakukan begitu
:hehe:

Barangkali hanya sedikit hal yang lebih membahagiakan (bagi kebanyakan) siswa-siswa jika dibandingkan dengan berita bahwa hari ini akan pulang cepat.

Berita sukacita, lantas diumbar.

Tak jauh berbeda dengan apa yang aku lihat di jejaring sosial Facebook hari ini. Ketika salah seorang friend men-share informasi yang pastinya membahagiakan hatinya (karena mendukung salah satu hal yang menjadi afiliasi dalam hidupnya). Dua kali.

Kali pertama, aku masih bisa komentar lah, sekedar memberikan referensi untuk mengimbangi sisi lain dari ceritanya. Sayangnya untuk kali yang kedua aku gak bisa komentar, entahlah, barangkali karena yang di-share adalah informasi dari sebuah page – yang mensyaratkan aku harus Like dulu page-nya baru bisa komentar (?)

Seseorang meninggalkan sanggahan untuk hasil share tersebut, entah sudah dibaca atau tidak, tapi sanggahan itu tidak diteruskan ke sumber share

Lindungi masyarakat, jangan takuti

Tapi terkadang, tak cuma informasi yang menguatkan yang cepat disebar. Acap kali berita-berita dengan muatan informasi yang mengancam kesejahteraan orang banyak, pun cepat menyebar. Barangkali saking pedulinya kita dengan orang-orang di sekitar kita, maka kita pun cepat-cepat membagi informasi dengan menggunakan media yang ada, tanpa memeriksa dulu keabsahan berita tersebut. Jadi ingat tentang kampanye “Teh Botol Sosro disinyalir mengandung dihidro monoksida“.

Tolong lah, selamatkan kami dari perdebatan panjang atau kepanikan massal; sebelum meneruskan informasi, lakukan cek dan ricek. Bisa ngetwit kan yah? Bisa fesbukan juga? Harusnya bisa dong sempatkan browsing keabsahan berita (?)

  • Ananta Bangun

    Menurut hemat saya, akrabnya kita dalam budaya pemanfaatan Internet lah yang memicu rendahnya perhatian akan sebuah informasi. Dapat di’culik’ dari kajian Nicholas Carr berjudul “The Shallow: What the Internet is Doing to Our Brains”. Atau boleh juga dilirik resensinya dari situs ini [http://www.psychologytoday.com/blog/the-pacific-heart/201209/the-internet-makes-you-stupid-and-shallow]

    Muncul kecenderungan untuk melirik lekas-lekas (scanning) bukan takzim membaca (reading). Hal ini, mungkin, pada awalnya untuk mendongkrak tingkat penyebaran sebuah wacana/ informasi [semisal dalam tujuan komersial]. Namun, ternyata ampuh juga dalam menebar informasi yang belum sahih kebenarannya.

    Teranyar, hal ini berlaku dalam tanggapan dunia maya terhadap pemberitaan seorang anak (pengidap leukimia) meninggal di satu RS karena beberapa ruangannya digunakan untuk keperluan pengambila adegan sebuah sinetron.

    Perlu juga kiranya masyarakat diberi kesempatan melirik langsung dapur media, agar dapat melek bagaimana sebuah informasi/ pernyataan disulap menjadi sedemikian menariknya. Namun, esensinya sendiri belum utuh benar.

    Untuk menjaganya ideal, sepertinya perlu kembali ke petuah moyang kita “Gunakan Secukupnya (dengan bijak)”.

  • memang kalau informasi yang berupa kepentingan massal dan membahagiakan cepat sekali menyebar. karena ada semangat yang lebih karena merasa senang dengan info itu. seperti peristiwa pulang cepat itu.

    tapi murid bang nich masih pada nurut ya. kalau aku dulu ya kalau salah info yaudah, cabut aja ke warnet sekalian. hahahaha

  • Hengky

    Lionel Mesi Juga Dikabarkan kok bg wekekeke

  • Pingback: Tips SEO, Pentingkah Etika SEO? - Dinneno Weblog()