Belajar tentang Dyslexia dari Taare Zameen Par: Every Child Is Special

Bisa bacanya? Jangan bingung dulu dengan judul postingan kali ini. Itu bukan typo. Itu judul film. Film keluaran Bollywood, ya film India. Kalau rilis DVD Walt Disney, judulnya; Like Stars on Earth. Dan aku harus bilang, ini film bagus, dengan rating 8,5 di IMDb.

like-stars-on-earth

Taare Zameen Par/Like Stars on Earth (2007) – sumber IMDb.com

Postingan kali ini, bukan sinopsis, atau review. Kalau mau baca review atau sejarahnya, silahkan klik tautan ke IMDb tadi, atau nongkrong di WikiPedia. Jadi di baca sampai tuntas ya. Dijamin, ini bukan sinopsis hasil copy-paste atau spoiler film.

Rayakan Kemampuan si Kecil

Kami punya satu orang putra. Namanya Oscar. Umurnya sekarang sedang di usia ‘pintar banget ngerjain orangtuanya’ — sangat aktif, lucu dan tidak mudah diatur. Mamanya adalah orang yang paling dekat dengan dia, karena Papanya tidak setiap hari bersama dengan dia. Sebagai orang yang paling dekat, aku bisa ngerti kalau Mamanya paling gampang ‘meledak’ setelah dipanasi terus-menerus dengan tingkahnya. Tapi aku tahu pasti, bahwa menjalani hari-harinya tidak segampang mengucapkan “sabar, Bu”. Tidak ada yang disalahkan disini, kami masih belajar. Dan akan terus belajar.

Dari film Bollywood yang kami tonton rame-rame dari layar laptop di kantor, aku pun semakin teguh berkeyakinan, bahwa setiap anak memang unik (baca; spesial). Aku belajar, bahwa memaksakan apa yang ada untuk berubah menjadi seperti yang lain, kadang kala bukanlah langkah yang bijak. Apalagi menyalahkan ketidakmampuan seorang anak, secara semena-mena.

Hambatan dan masalah, dipecahkan bukan dengan langsung memaksakan perubahan pada anak yang bermasalah, tetapi dengan terlebih dahulu memastikan sumber masalahnya.

Terima kasih untuk nonton.com yang telah berjasa, membuatku berkesempatan untuk belajar dari film ini. Aku bersyukur, bisa belajar banyak dengan bermodal koneksi internet (walau sering diributin kalau sudah buka WikiPedia, seperti ketika cari tahu tentang dyslexia ini. Bisa nyangkut lamaaaaa..). Well, setidaknya bisa belajar dari pengalaman orang lain memecahkan sebuah masalah. Dan untuk dyslexia, barangkali setiap orang dengan dyslexia juga tidak segampang (apa yang digambarkan pada film) itu diajarinya.

Dyslexie Font untuk Kemudahan Membaca

Berapa sih peluang setiap anak dengan dyslexia bisa mendapatkan kesempatan diajari oleh orang yang tepat? Sukur-sukur teridentifikasi. Kalau malah terus-terusan disalahkan, amit-amit, malah jadi depresi kan?

Dan, sekali lagi, internet membawa kemudahan. Menjembatani kehadiran orang yang paham akan dyslexia, dan memiliki kemampuan untuk membantu orang dengan dyslexia untuk dapat mengatasi masalah mereka. Adalah Christian Boer, a dyslexic himself. Yang menghadirkan satu jenis font yang membuat kegiatan membaca, menjadi lebih mudah dilakukan bagi mereka yang dyslexic.

Dyslexie Font from Dyslexie Font on Vimeo.

Dikatakan, orang dengan dyslexia melihat karakter tulisan sebagai objek 3-dimensi. Digambarkan bahwa karakter tersebut sulit dibedakan, karena memang mirip. Sehingga salah satu tantangan bagi mereka adalah; membaca. Kalau tonton film yang kusebutkan tadi, dikatakan bahwa karakter huruf ibarat monster bagi Ihsaan. Menakutkan, dan merupakan momok bagi dirinya. Tonton deh filmnya, atau setidaknya video di atas, biar paham.


Semoga postingan ini juga bisa membantu kita memahami apa yang barangkali belum kita pahami terhadap orang-orang di sekitar kita. Sukur-sukur bermanfaat dan menjadi solusi bagi yang membutuhkan solusi.

  • Okay masuk playlist untuk ditonton nih film

  • Mudah-mudahan masih sempat nonton film, karena boruku sekarang menguasai remote tv Disney Junior dan Baby First.. hahaha

  • Wirda Weird

    Udah nonton berkat postingan ini dan udah nulis jg soal ini. Thanks nich

    • Kita sekarang di posisi ‘orang tua’ kan, kak :)
      Musti belajar, terus dan terus.