Banyak Belajar dari Komunitas Kretek

Ketika BNN hiruk pikuk diperbincangkan di media massa, atas keberhasilannya menggerebek kediaman Raffi Ahmad dan mendapati 2 linting ganja – diulangi, hanya 2 linting ganja dan sejumlah pil yang gak jelas. Ada satu berita yang sempat kulirik, berita tentang Wanda Hamidah yang aktif menggalakkan kampanye anti rokok – tetapi orangnya merokok lagi.

Persoalan merokok ini, jadi gunjingan (mengikuti gunjingan terhadap kebiasaan WH yang kedapatan foto di tempat dugem) karena jabatannya sebagai wakil rakyat. Karena kebiasaannya, maka dia dianggap tidak pantas.

Udah, cerita Wanda Hamidah-nya cukup sampai disitu.

Yang menjadi pemikiranku hari itu adalah; apakah bisa dibenarkan bila satu kebiasaan dijadikan alasan untuk mengukur apakah seseorang menjadi pantas-atau-tidak untuk memperoleh sebuah kesempatan? Tidak bisa dijawab langsung memang, tapi ada satu tulisan yang kudapati bisa membantu kita dalam menyelami sebuah peraturan.

Ketika itu ada lontaran dari Menteri Kesehatan, Nafsiah Mboi, yang mengatakan bahwa konsumen rokok tidak akan dijamin melalui Jamkesmas. Awalnya sih kuabaikan, secara aku pribadi tak punya segala macam jaminan atau pun asuransi..eh, asuransi kredit motor sih ada. Tetapi entah bagaimana, tahu-tahu aku sudah dipaparkan kepada satu opini yang dituliskan di sebuah situs Komunitas Kretek. Baca deh tulisannya, Kebijakan Menkes yang Tidak Bijak.

tradisi kopi - komunitas kretek

Papan Pesan oleh @KomunitasKretek

Setelah puas membaca tulisan itu, aku mulai pikir-pikir lagi, apa sebenarnya Komunitas Kretek ini. Sebelumnya sih pernah lihat di Instagram siapa, gitu; ada foto yang menunjukkan sebuah meja makan dengan papan pesan bertuliskan “kawasan bebas merokok” dari Komunitas Kretek. Disitu tertera akun twitter @KomunitasKretek. Maka aku pun mulai menelusuri timeline-nya.

Awalnya kusangkakan komunitas ini adalah ajang ngumpulnya para second-class citizen, ternyata aku yang salah duga. Isinya bukan sekedar “ini rokokku, mana rokokmu” tapi ada banyak proses edukasi yang disampaikan, ada kutipan sejarah yang sempat kuabaikan, dan ada misi advokasi yang mereka jalankan. Dan jujur, aku sebelumnya tidak tahu bahwa rokok kretek adalah produk asli Indonesia.. ya, ditemukan (atau diciptakan) pertama sekali oleh orang Indonesia. Berbeda dengan rokok putih yang jelas-jelas dibawa si koboi putih.
:hehe:

Tahukah kamu bahwa rokok kretek dinamakan demikian karena setiap kali dihisap, cengkeh yang terbakar akan berbunyi “kretek-kretek” . Ya, cengkeh.. rokok kretek berbeda karena di dalamnya ada cengkeh.

Tahukah kamu, bahwa industri kretek, adalah sebuah industri nasional yang menghidupi 30,5 juta jiwa, dan salah satu sektor industri yang mampu benar-benar berdikari karena menggunakan hampir 100 persen bahan baku lokal, modal lokal, bahkan pasar lokal.

Sebagai penutup, ini adalah sebuah tulisan yang juga dibagikan pada situs Komunitas Kretek.

Alkisah tahun 1953, KH. Agus Salim mewakili Presiden Soekarno dalam acara penobatan Ratu Elizabeth II sebagai Ratu Inggris di Istana Buckingham. Di acara itu Agus Salim melihat Pangeran Philip tampak canggung menghadapi khalayak yang hadir, barangkali karena masih muda. Ia menyalakan kretek, lalu mendekati Pangeran Philip. Di sekitar hidung Pangeran Philip, Agus Salim mengayun-ayunkan kreteknya. Ia kemudian bertanya, “Your Highness, adakah Paduka mengenali aroma rokok ini?” Pangeran Philip menghirup-hirup aroma kretek Agus Salim. Setelah beberapa saat ia mengaku tidak mengenali aroma tersebut. Agus Salim tersenyum lalu berkata, “Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun lalu bangsa Paduka mengarungi lautan dan menjajah negeri kami.”

  • wah…. baru tau (langsung follow) 

  • sabda awal

    jadi bunyinya kretek2 juga… baru tau,,, 

    salam kenal ya bg, blogger sumut juga nih