Bertahun-tahun lalu.. setiap tanggal 10 Nopember, pastilah aku turut serta dalam barisan upacara bendera, sebuah peringatan untuk Hari Pahlawan. Itu dulu, waktu usia belajar – sekarang kan sudah masuk usia pengalaman.. jadi gak pakai baris lagi tapi tinggal icip asam-garam aja.
Setengah isi rumah orangtuaku – peliharaan tidak dihitung – tak tahu pasti apa yang membuat tanggal 10 Nopember menjadi begitu berharga untuk diperingati. Bapakku sebenarnya sempat ngasih jawaban yang benar, cuma dia gak ngasih 1 jawaban.. melainkan 3 sekaligus. Ibarat pilihan berganda, udah susah lah untuk salah.
Trus, situ tahu? Kenapa tanggal 10 Nopember diperingati sebagai hari Pahlawan? Siapa yang jadi Pahlawan?

Buat yang ngejawab dengan keyword “Boeng Tomo” atau “Brigadir Malaby” atau “NICA” atau “Peristiwa Surabaya” udah mengena lah. Yap, 10 Nopember 1945 adalah waktu terjadinya pertempuran paling berdarah dalam sejarah revolusi Republik Indonesia ini. Pertempuran yang menyebabkan banyak pejuang kita, tua dan muda, gugur sebagai pembela kedaulatan NKRI. Tapi melihat kembali peristiwa itu, jadi teringat dengan petuah
We lost the battle, but not the war.
Pertempurannya memang cuma makan waktu 3 hari untuk merebut kota Surabaya, berkat kedigyaan peralatan perang NICA dari darat, laut, maupun udara. Habis lah pokoknya semua di bombardir mereka.
Tapi minim pengalaman dan persenjataan yang tidak seimbang ternyata bukan jadi alasan bagi pejuang kita untuk bersikap pesimis, dan mundur.. tidak kawan, mereka terus ngotot bertahan lebih dari 3 minggu! Melihat fakta sejarahnya, emang agak ngeri juga dalam 3 minggu ribuan nyawa melayang. Benar-benar pertumpahan darah! Tapi semua mereka lakukan untuk mempertahankan kedaulatan, menunjukkan eksistensi kita sebagai sebuah negara dan bukan lagi sapi perah bagi negara kolonial.
Walaupun terhitung kalah di medan laga, tapi ini jadi titik awal kemenangan kita di perang sesungguhnya. Inggris yang awalnya adalah sekutu Belanda aja sampai berpikir ulang, dan malah mendukung Indonesia di kancah PBB. Kurasa menitikkan airmata kawan disana ngelihat kekeuh-nya para pejuang kita, ya

Sama seperti Peringatan Sumpah Pemuda kemarin, aku memang bukan ahli sejarah, apalagi saksi sejarah.. cuma mengandalkan sedikit ilmu PSPB ditambah googling sana-sini. Buat yang mau menambahkan, silahkan tinggalkan komentar. Tapi jika di atas aku mengawali tulisan dengan kesetiaanku menghadiri upacara 10 Nopember, sekarang aku kasih tahu alasannya..
Aku memiliki cara tersendiri untuk mengapresiasi film bertema kolosal, sejarah dan peperangan; tapi bukan penggemar ya (kalau ada sukur ditonton, kalau gak ada pun tak dicari). Walaupun aku percaya, yang menang yang menulis sejarah, tapi kalau film-nya emang bagus, ya bagus saja.
Lalu Peristiwa 10 Nopember 1945 ini pun, aku proyeksikan di dalam pikiranku sebagai sebuah film
- Dengan setting dan kualitas akting setara Saving Private Ryan,
- dengan bumbu euforia cinta tanah air sekeras Bravehart,
- dengan drama konflik integrasi seperti dalam Windtalkers,
- dan memberikan kesan walau-kalah-tapi-menang yang sama dengan yang ada di film Cool Runnings.
Yah, aku hanya berusaha menikmati apa yang ada.. lebih baik ketimbang mengabaikan yang ada di depan mata

(foto diambil dari DetikForum)


























artikel yang sgt menarik bos
Sedih. Artikel yang bagus. saya jadi bisa merasakan gmn tertindasnya mereka, kenapa sih harus ada perperangan dan penindasan? sampai sekarang aja dunia ngga pernah damai. jadi sedih!
semoga semangat masih dapat merasuki para pejabat pejabat kita, kita doakan
Elllhooo….
emang, apabedanya antaara peperangan and pertempuran?…..
wah hebat donk….
menarik sekali artikel nya salut…
saya pinjam gambarnya boleh gak ya…
itu gambar bukan hak ekslusif saya koq

ciptakan kedamaian di bumi ini!!
yuk.. mari
ini referensi yang membuat hati saya adem…tanks ya mas..bobot artikel anda saya nilai 100…biar dapat temen baru di blog saya Tukeran link ya mas..tak tunggu dirimu berkunjung ke blog sederhana saya http://ahligiza.blogspot.com..