Aug 08
Selama tujuh hari pelaksanaan puasa pekan pertama Ramadhan, sejumlah stasiun televisi menyiarkan program kuliner. Karena saya mengimbau agar adegan makan dan minum dihindarkan, apalagi penayangan lebih banyak di siang hari
Itu sejumput kutipan protes dari anggota Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Iswandi Syahputra. Kita jangan serang institusinya yah, juga jangan serang orangnya. Karena si bapak punya statement yang juga bagus
Ya ini sudah waktunya stasiun televisi untuk ‘tobat’ dari segala tayangan yang tidak mendidik
Sebenarnya, yang mau aku pertanyakan adalah apakah kita memang masih perlu televisi sebagai media informasi? Atau TV sebenarnya hanyalah bentuk akhir dari sebuah layanan jasa yang berusaha untuk menjamin bahwa apa yang disiarkan adalah “baik” untuk semua orang, “pantas” untuk semua umur, dan mendukung kesejahteraan hidup orang banyak?
Baca kelanjutannya.. »
Apr 13
Jangankan nama-nama artis kita, untuk bidang yang saya geluti pun, kerap seperti itu; gak kenal dengan beberapa nama besar blogger senior atau pun internet marketer.
Tak aneh jika sewaktu-waktu saya bisa jadi menanyakan ke teman bicara “si-ini itu yang mana orangnya?” atau “siapa sih si-itu itu?”. Dan kemarin, kejadian..
Siapa sih Carissa Puteri?
Pertanyaan itu terlontar begitu saja dalam sebuah acara duduk-duduk bareng pacar (baca: ngapel).
Sukur teman-teman saya (dan juga sang pacar) bukan tipikal orang yang suka ngeledekin dengan sindiran “gak gaul” atau sejenisnya. Mereka malah cenderung cukup kooperatif dengan mencekoki saya dengan fakta dan informasi yang relevan terhadap pertanyaan saya. Para peserta apel pun mulai melontarkan jawaban (jangan heran kalau di acara ngapel model saya ini, suka banyak orang yang nimbrung).
Ooo, dia artis sinetron toh?
Ooo, dia yang peranin Maria di film “Ayat-Ayat Cinta”.
Ooo, dia model iklan juga?
Ooo, itu foto dia yah yang dulu mejeng di baliho besar jalan Gatot Subroto?
Dan banyak “Ooo” lain yang terucap dari mulut ini.
Baca kelanjutannya.. »
Sep 14
Malam Senin kemarin ada film bagus, judulnya “NERO“. Sesuai namanya, film ini bercerita tentang Kaisar Nero dari Roma, dan aku berjuang dengan keras untuk bisa tonton itu film dari awal sampai akhir. Ya, memang badan ini sudah dibiasakan untuk mengikuti bioritmik orang-orang “normal”. Jadi wajar kalau jam 1 dini hari anakmudanya udah ngantuk berat.
Oke, alasan kenapa aku tonton itu film adalah karena aku punya ketertarikan akan kisah-kisah bersejarah (apalagi kalau udah masuk dalam kategori ‘epic‘). Kerap ditunjukkan sebuah pemerintahan dengan pemimpinnya yang agung dan berkuasa, tapi berujung petaka gara-gara ulah segelintir orang. Entah itu beralaskan ambisi, atau bahkan cuma kekhawatiran tak beralasan.

Film serupa, yang kutonton entah kapan itu, menceritakan tentang Kaisar Julius Caesar. Satu nama besar, yang ujung hidupnya berakhir tragis di tangan anggota-anggota senat, orang-orang yang sama, yang seharusnya menjadi penyokongnya. Demikian juga dengan film Nero ini..
Bagaimana kisahnya..
Komunitas Blog Lainnya