Pengalaman Pertama Terapi Ozon

Dua minggu yang lalu, anakmudanya berkesempatan untuk mencoba salah satu treatment yang ditawarkan oleh Klinik Terapi Ozon Bekasi, tempat praktek dr. Lenny (buat yang belum kenal, bisa baca postingan perkenalan dengan dr. Lenny).

Seumur-umur, hanya beberapa kali saja jarum suntik pernah menusuk tubuh ini. Puji Tuhan, walau dulu kerap lakalantas, tapi gak pernah sampai harus menjalani transfusi darah. Begitu juga dengan aksi donor darah. Aku sebenarnya bukan pribadi yang menentang kegiatan donor darah, justru aku percaya bahwa donor darah itu bermanfaat bagi kesehatan. Tapi memang seumur-umur aku tidak pernah mendonorkan darah. Jadi pengalamanku terkait proses keluar masuk darah, benar-benar minim. Dan tolong, jangan disangka bahwa ‘ketakutan’ adalah alasannya. Bukan, bukan, bukan. I just don’t have the urge

Setelah perkenalan sebelumnya, sebenarnya beberapa orang teman yang tertarik dengan manfaat terapi ozon ini, mencoba langsung menjalani perawatan ini. Dari cerita mereka sih, katanya kian hari memang ada perbedaan yang dirasa. Si M cerita, kalau bangun tidur, rasanya lebih gampang; gak puyeng dan lemas lagi (walau tetap bangunnya masih saja kesiangan). Dan bertepatan kemarin salah seorang teman memang niat ke Bekasi untuk menjalani terapinya yang ketiga (kalau tidak salah), jadilah anakmudanya diajak untuk ikutan.

Sebenarnya cuma mau ikutan ketemuan dengan dokter Lenny doang, tapi entah kenapa, ketika ngobrol di ruang terapi, dan ditawarkan untuk nyobain langsung.. Aku gak berani nolak :hehe:

Prosesi Darah dan Jarum

Awalnya ditensi, diukur tekanan darah, gitu. Lalu diserahkan semacam surat persetujuan tindakan medis, yang harus aku lengkapi form isiannya, lalu aku tandatangani. Ngebaca dokumen resmi gitu, sempat was-was juga, tapi melihat rekam jejaknya kupikir-pikir sih, ya pasti aman. Ya sudah aku teken juga itu suratnya.

Lalu datanglah suster dan dokternya, membawa beberapa peralatan; ada jarum, ada selang, ada botol kaca untuk menampung darah (iya, botolnya terbuat dari kaca, bukan kantung plastik itu lho) dan terlihat alat khusus pembuat gas ozon juga. Berserah aja lah.

terapi-ozon-nich

Nich Terapi Ozon

Cuss.. jarumnya masuk. Daaaaan, darahnya gak keluar…

Kusangka udah berat betul kondisi kesehatanku, yang gemar merokok, yang sering begadang, lalu jarang olah raga. Tetapi ternyata oh ternyata, lagu lama, belum ketemu nadi :phew:

Crut.. lalu darah pun terlihat mengaliri selang, mengalir menuju botol kaca yang sudah digantung. Tetes demi tetes berlalu dengan cepat. Iya, cepat. Aku dapat (semacam) pujian karena tetesannya lancar. Sementara teman di sebelah, udah nyaris jadi agar-agar itu darahnya yang menetes.. :no:

Kata dokternya sih, dan karena dia tahu kebiasaanku dari obrolan-obrolan sebelumnya, perkara rajin minum air putih itu bisa bikin darah tidak terlalu kental. Makanya tetesanku berjalan lancar, dan alhasil, kurang dari satu jam darah yang ditampung ke botol tadi, sudah bercampur dengan gas ozon medis, dan sudah masuk kembali ke dalam tubuhku.

Manfaat Terapi Ozon

Satu-satunya kondisi yang terasa waktu itu, cuma rasa dingin, dari hembusan AC. Gak ada reaksi yang fantastis, atau yang benar-benar wah. Gak ada, biasa aja. Lalu aku tanya sama temanku, jangan-jangan badanku yang salah. Tapi katanya sih memang gitu, “kita kan terapi ozon bukan makan cabe” :hmmm:

Namanya juga terapi kesehatan, memang seharusnya dijalani beberapa kali. Wajar sih aku yang menjalani cuma satu kali saja tidak begitu merasakan apa bedanya. Apalagi, kalau menurut dr. Lenny, kondisi kesehatan tubuh memang pada dasarnya dicapai dengan dilatih dan bukannya dimanjakan dengan asupan obat-obatan.

Jadi terapi ozon ini sebenarnya bukan proses instan pengikatan radikal bebas oleh O3, lalu diboyong rame-rame secara paksa untuk keluar dari tubuh. Bukan, bukan seperti itu. Tetapi menurut penjelasan dokter Lenny, jika boleh aku ringkaskan; ozon yang melakukan kontak dengan sel darah memicu sel-sel darah untuk ‘mengerti’ kerjaan yang harus dilakukan sel darah itu sendiri. Misi utamanya adalah memperbaiki fungsi sistem organ tubuh untuk meningkatkan kualitas kesehatan ke taraf yang optimal. Ya, masuk akal, mengingat dr. Lenny sendiri memang mengusung Kedokteran Fungsional.

Mengutip dari situsnya;

Sebagai substansi yang bertindak sebagai obat dan obat itu sendiri, ozon menawarkan manfaat berikut:

  • Oxygenative: meningkatkan kemampuan darah untuk menyerap dan mengangkut lebih banyak oksigen ke seluruh tubuh.
  • Revitalisasi: meningkatkan metabolisme tubuh, daya tahan tubuh, mengembalikan dan mengoptimalkan fungsi organ tubuh, terlebih kepada pasien penyakit degeneratif.
  • Modulator stres oksidatif: optimalisasi sistem antioksidan tubuh adalah salah satu efek biologis fundamental terapi ozon. Ozon menghambat penuaan dini, meningkatkan jumlah antioksidan, serta mengurangi radikal bebas.
  • Imunomodulator: merangsang pertahanan/kekebalan tubuh yang berkurang ketika muncul reaksi kekebalan modular atau yang menyebabkan penyakit autoimmun.
  • Regenerator dan biostimulasi: meningkatkan regenerasi sel (penyembuhan luka) berbagai jenis jaringan tubuh.
  • Detoksifikasi: mengoptimalkan fungsi hati dan filter ginjal, sehingga membantu tubuh menghilangkan zat berbahaya.
  • Analgesik dan anti-inflamasi: mengatasi peradangan pada gangguan sendi dan otot.
  • Germicide: mematikan berbagai jenis mikroorganisme (seperti bakteri, virus, dan jamur), dan meningkatkan perlindungan terhadap infeksi.

Rencana Terapi Ozon Selanjutnya

Berhubung di klinik ini sebenarnya mewajibkan proses konsultasi karena perawatan kesehatan itu gak bisa seperti scaling gigi (yang disitu datang, disitu langsung diberikan tindakan), jadi sepertinya besok-besok aku musti pikirkan dengan jelas dulu mau merawat apa, dan menyiapkan dana yang dibutuhkan :haha:

Oh, jika ada yang butuh info, khususnya terkait harga terapi ozon ini, bisa lihat tabel di bawah:

harga-terapi-ozon

Harga Terapi Ozon