Semalam Nonton Edward Scissorhands
Semalam baru nonton film lama, di TV swasta lah (gak mungkin aja nonton film yang obsolete ke bioskop). Judulnya Edward Scissorhands, yup seperti yang tergambarkan dari judulnya; sang karakter utama bertangankan gunting.
Film ini pertama sekali aku tonton ketika masih berstatus “siswa” kira-kira ketika aku masih duduk di bangku SD (sudah lupa tahunnya, sekitar 90-an awal), tapi yang pasti waktu itu juga saya nontonnya di televisi, dan bukan di bioskop. Kalau sudah pernah ditonton, kenapa juga ditonton lagi..? Sederhana, saya suka sekali film ini.
Apalagi menonton film itu, artinya bisa ngelihat lagi penampilan Winona Ryder

Film ini, berisikan semua hal. Ya, mungkin sedikit sulit untuk memahami kalau di film ini anda bisa menemukan komedi, horor, drama, roman, penggambaran penyakit masyarakat “normal” atau unsur-unsur lainnya. Memang intensitas tiap unsur tidak terlalu menonjol, tapi jika benar-benar disimak film ini dengan plotnya yang biasa-biasa saja sanggup memberikan pesan moral yang hebat.
Ceritanya tentang seorang penemu yang menciptakan sosok Edward (Johnny Depp) dari koleksi temuannya. Sebenarnya temuannya juga tidak ada yang cukup membanggakan saat itu, malah terkesan konyol (dia cuma membuat rangkaian mekanisme pembuat-kue). Tapi walaupun begitu, dia mampu “menciptakan” Edward. Ini luar biasa..
Sedikit tidak masuk akal, tapi justru yang masuk akal dan biasa-biasa, tidak akan “cukup menarik” untuk diikuti, bukan begitu?
Memang sosok Edward tidaklah sempurna, karena sang penemu keburu menigggal sebelum menggantikan tangan Edward – yang saat itu masih berupa bilah-bilah gunting – dengan tangan artifisial. Yah, jadilah Edward karakter bertangankan gunting. Walaupun begitu, sang penemu sudah sempat mengajarkan ciptaannya itu beberapa norma masyarakat, dan cara berkomunikasi.
Ck..ck.. dia benar-benar bekerja dengan sepenuh hati untuk menciptakan karakter yang memiliki hati. Biar fisik gak selesai, tapi hati sudah siap.
Lalu, datanglah seorang tokoh yang mengubah kehidupan Edward. Yang mengajak Edward untuk hidup di tengah-tengah masyarakat. Walaupun tujuan awalnya, didorong oleh rasa putus asa gara-gara pemasaran produknya gagal, namu niatnya benar-benar tulus, tidak berusaha untuk memanfaatkan atau menjerat. Walaupun masyarakat berpikiran sebaliknya.
Jadi benar sekali yah, untuk bermasyarakat memang harus ada kontribusi yang dibayarkan.
Mungkin Edward bisa saja menolak untuk berkontribusi, tetapi disitulah tokoh Kim (Winona Ryder) menjadi pemikat hatinya. Jujur aja, waktu pertama nonton film ini lah aku belajar mengkategorikan perempuan sebagai “cantik”.
Kalau aku aja sampai terpesona dengan tokoh itu, apalagi si Edward yang notabene jam terbangnya untuk ngelihat pemandangan bagus sangatlah terbatas.
Lalu di kisah itu, terangkatlah prilaku masyarakat. Apa yang membuat orang lebih puas lagi, selain melihat superhero-nya beraksi? Tak lain tak bukan, “melihat kejatuhannya” (ini mirip kata-kata Green Goblin di film Spiderman).
Menjadi “seleb” tidak menyediakan ruang buat kesalahan.. *menyedihkan*
Awalnya Edward dipertanyakan, lalu digandrungi, kemudian dimanfaatkan, lalu dipersalahkan.. Sounds familiar, huh
Jujur, tontonan yang satu ini benar-benar memikatku. Jangan mengharapkan bentuk terpikatnya sebagai ekspresi “uuuhh.. oh…hhh” atau mata melotot-tercengang dan lain sebagainya. Tapi lebih ke pemikiran, ke imajinasi.. Kalau film sci-fi mengajak kita berandai-andai akan sesuatu yang belum tercapai, film ini justru memaparkan kehidupan yang sudah dijalani. Salut buat imajinasi Tim Burton

